Friday, May 25, 2007

Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng

Tahu tarian Saman? Seudati? Iya benar. Itu adalah tarian khas Aceh yang sudah sangat terkenal di nusantara bahkan di dunia. Kali ini saya bukan sedang ingin membahas tentang Tari Saman atau Seudati yang sudah termasyur itu. Tapi saya ingin bercerita kepada semua tentang tari Rapai Geleng (adiknya tari Saman dan Seudati). Tari Rapai Geleng adalah seni tari berupa gerakan badan dipadukan dengan suara dan gerakan tangan,kepala dan anggota tubuh lainnya, dibawakan oleh 16 orang penari laki-laki dan 1 orang syekh. Rapai hampir sama dengan beduk akan tetapi bentuknya kecil dan sanggup diangkat dengan sebelah tangan persis sama dengan rebana akan tetapi dia agak sedikit tebal dan suaranya sangat besar. Saya tidak membahas tentang bagaimana tarian itu dibawakan atau diperagakan, tetapi saya ingin mmbahasa filosofi yang terdapat dalam tarian tersebut.

Teman saya menyebutnya : Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng

Alhamdulilah Pujo Keu Tuhan. Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya. Teuma Seulaweut Ateuh Janjongan. Panghulee Alam Rasul Ambiya

(Segala Puji kepada Tuhan. Yang telah menciptakan langit dan dunia. Selawat dan salam pada junjungan. Penghulu alam Rasul Ambiya)

Nanggroe Aceh nyo Tempat loun lahee. Bak Ujoung Pantee Pulo Sumatra. Dilee Baroo. Kon Lam jaro Kaphe. Jino Hana Lee Aman Sentosa

(Daerah Aceh ini Tempat lahirku. Di ujung pantai pulau Sumatera. Dulu berada di tangan penjajah. Kini telah aman dan sentosa)

Sederet syair yang dilantunkan kolosal sebelasan pria berkostum hitam kuning berpadu manik-manik merah, serempak menggeprak panggung dengan duduk bersimpuh menabuh rapa-i (rebana khas Aceh terbuat dari kulit kambing betina) dengan ritme teratur. Tiba-tiba, tetabuhan yang tadinya berirama satu-satu, lambat, berubah cepat di iringi dengan gerak tubuh yang masih berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan. Itu tak cukup, gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Bunyi tetabuhan rapa-i begitu dahsyat menghantam sesuatu paling dalam di jiwa, menggeser kepongahan, menghadirkan ketakjuban. Tak lama, dalam satu hentakan, seluruh gerak dan bunyi tadi tiba-tiba lenyap, hening, dan diam. Ada getar magis sesaat tetabuhan dan seluruh gerak sebelasan pria muda tadi berganti hening dan diam. Setidaknya itu kesan sepintas saat menyaksikan langsung pagelaran tarian Rapa-i geleng –tari tradisional Aceh-, kapanpun dan dimanapun. Namun sesungguhnya ada getar lain yang maha dahsyat ketika kita memahami seluruh ritme gerak tarian negeri seribu konflik itu. Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian rapa-i geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan Agama, politik, sosial dan budaya mereka. Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian rapa-i geleng tersebut coba memberi pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Maaf dan permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian;

Meu nyo ka hana raseuki, yang bak bibi roh u lua. Bek susah sare bek sedeh hatee, tapie kee laen ta mita.

(Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar jangan lah susah, jangalah bersedih hati, mari kita pikirkan yang lain untuk di cari)

Kata “raseuki” yang bermakna “rezeki” dalam syair di atas, merupakan simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan perbuatan baik kepada mereka dimaknakan sebagai sebuah keberuntungan. makna sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan jahat, maka masyarakat Aceh mengartikan ketakberuntungan nasib mereka, dan ketakberuntungan itu merupakan permaafan. Gerakan beritme Cepat adalah gerak kedua, sesaat pesan yang terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan penyikapan ketika perbuatan jahat, yang dimaknakan sebagai ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi masih sebatas protes keras belaka. Seperti bunyi syair di bawah;

Hai Laot sa, ilak ombak meu Aloun kapai die eik troun meu lumba Lumba hai bacut teuk, salah bukon sa Lah loun salah mu, lah poun awai bak gata

(Wahai Laut yang berombak mengayunkan kapal naik dan turun sedikit lagi kemasukan air, itu bukan salah ku, engkaulah yang mengawalinya)

Gerakan beritme cepat ini tak lama. Segera disusul dengan gerakan tari beritme sangat cepat mengisyaratkan chaos menjadi pilihan dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Sebuah perlawanan disaat protes keras tak diambil peduli. Tetabuhan rapa-i pada gerakan beritme sangat cepat inipun seakan menjadi tetabuhan perang yang menghentak, menghantam seluruh nadi, membungkus syair menjadi pesan yang mewajibkan perlawanan dalam bentuk apapun ketika harkat dan martabat bangsa terinjak-injak. Cuplikan sajak “perang” nya “maskirbi” yang biasa dilantunkan menjadi syair dalam gerakan beritme cepat pada tarian rapa-i geleng ini bisa menjadi contoh sederetan syair-syair yang dijadikan pesan.

Doda idi hai doda idang. Geulayang balang ka putoh talo. Beureujang rayeuk banta siding. Jak tulong prang musoh nanggro

(doda idi hai doda idang –nyanyian nina bobo untuk anak- layangan sawah telah putus talinya cepatlah besar wahai ananda pergilah, perangi musuh negeri)

Pada titiknya, tiba-tiba semua gerakan tadi berhenti seketika, termasuk seluruh nyanyian syair sarat makna. Semua menjadi bisu, hening dan diam. Ini merupakan gerakan akhir dari tarian. Gerakan diam merupakan gerakan yang melambangkan ketegasan, habisnya semua proses interaksi. Bagi orang Aceh, gerak diam adalah gerak perlawanan abadi, di sana tak adalagi musuh, di sana tak adalagi teman. (sumber: Mandis-M Andi Sabri Kasturi-Arie)

Sebegitu kuatnya makna yang terkandung dalam tarian aceh ini. Namun sayang. Ketika tari tradisional Aceh diperkembangkan lebih jauh, banyak pakem dasar yang dilupakan atau ditinggalkan oleh para koregrafernya. Tari tradisi Aceh pun berubah menjadi tari kreasi baru, dengan pulasan keacehan ala kadarnya. Hanya demi “kepentingan” dan ambisi palsu koreografer tanpa terlebih dahulu mengetahui latar belakang atau filosofi yang terkandung di dalamnya. Para koreografer hanya berpatokan pada grafik ritmis setiap tari Aceh -- lambat, sedang, dan cepat -- yang sering mereka katakan “ruh” tari Aceh. Gerak dinamis khas tari Aceh jadi “terbongkar”.

Wednesday, May 23, 2007

H u R u F

Setelah beberapa saat disibukkan dengan cinta dan lalu aku menuangkannya dalam sebuah posting. Kini perhatianku tertuju pada “huruf”. Setelah membaca kembali tulisan-tulisanku diblog ini, terlihat sangat amburadul dan begitu jorok. Jorok dari segi teknik menulis. Mulai dari tanda baca, huruf, spell dll.
Aku teringat pada kata-kata temanku tentang apa itu menulis.Bintang Matahari (5/18/2007 2:28:54 AM): sebagai sebuah huruf yang dirangkai menjadi kata dan membentuk kalimat, itu sangat bermakna, dalam, dan menyentuh...

Tapi kata-kata berikutnya membuatku menjadi tersadar apa arti menulis itu sendiri. Menulis bukan hanya sekedar merangkai huruf-huruf yang kemudian tersusun menjadi kata dan kemudian membentuk kalimat, baik bermakna atau tidak sama sekali. Tetapi pada apakah tulisan-tulisan itu telah teraplikasi dalam kehidupan kita.

Kamu pasti kenalkan Khalil Gibran? dalam Sayap-sayap patah, The Prophet, Si Gila, dll. Khusus dalam Sayap-sayap Patah rangkaian katanya dahsyattttt…sangat dahsyatttttttttt dan mungkin tak tertandingi. Tapi masalahanya kupikir, that's just a word, nggak lebih. Kenapa? bahkan sampai ketika dia mati pun, dia selalu gagal dalam urusan cinta. Tidak seperti apa yang di tulisnya. So kupikir ini bukan berhenti semata-mata pada keahlian teknis menulis. Tetapi bagaimana tulisan tersebut adalah pandangan, ide bahkan kalau perlu itulah sikap hidup. Jangan dipisah, bahwa tulisan itu haruslah di jiwai dengan apa yang terjadi dan menjadikannya...dengan kata lain, jangan hanya berhenti pada titik menulis atau berpikir saja, but...buatlah kaki untuk tulisanmu. Biar dia bisa benar-benar melangkah dibumi dengan segala macam carut marutnya ini.

Begitu kata temanku suatu hari, saat itu aku merasa kesulitan dalam merangkai huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat dan membentuk sebuah tulisan. Ya…dan aku sepakat untuk ini. Tulisan menurutku juga jangan hanya berhenti pada teknis menulis atau pemikiran saja. Tapi juga harus diusahakan menjejak dibumi alias aplikatif.

Dan yang bikin aku nyengir saat dia mengatakan untuk sebelum mengedit contents dari tulisanku sebaiknya aku mengedit dahulu tulisanku dengan hal-hal teknis, karena tulisan sebagus apapun, kalau nulisnya jorok akan kehilangan keindahnya. hi… dan kali inipun aku sepakat dengannya. Memang aku akui kalau teknik menulisku masih buruk. Tapi terus dalam tahap perbaikan. Terus belajar. Dan tak hanya itu, aku juga ingin dia tidak hanya menjadi makhluk mati. Kupikir tulisan juga mahkluk organis yang tumbuh dan bisa menjadi dewasa.

Saat menulis ini, aku menemukan salah satu puisi karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul sama dengan judul post ini. Berikut kutulis ulang buat yang membaca post ini sebagai penutup dari tulisanku ini.

HURUF

Wahai huruf,
Bertahun kupelajari engkau,
Kucari faedah dan artimu,
Kudekati kau saban hari,
Saban aku jaga,
Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu.

Tetapi; kecewa hatiku.
Kupergunakan kamu
Menjadi senjata dialam kanan,
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan.
Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,

Tetapi …
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.

Alangkah akan tinggi ucapan
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi bukuterbuka,
Bagi manusia yang membacanya.

Kalaulah aku direndam lautan api,
Hendaklah kamu merendam pembacamu,
Bilalah aku disendu pilu,
Hendaklah kamu merana dalam hatinya.

Huruf, huruf….
Apalah nian sebabnya maka kamu
Belum tahu akan maksudku?

Pramoedya Ananta Toer
Sadar No.5 th. II,
10 januari 1947

Tuesday, May 22, 2007

Panggung

Kawan, jika kau duduk sambil memeluk lutut di perempatan sibuk ini, sementara mata yang menerawang lalu lalang nyalang hanya menangkap suwung, kau akan tahu bagaimana perasaan yang membuncah ruah di hati. Ada penat yang sumeleh, ada riang yang getir dan ada kengerian akan beranjak kemana kota ini dengan segala hiruk-pikuknya.

Ya, aku disini selalu gelisah kawan. Gelisah menunggui waktu yang alpa menjemput janji-Nya memenangkan si papa.

Disini adalah Jakarta, kota lupa diri yang gedung-gedung tingginya dibangun atas amnesia kolektif warganya plus segala simbol-simbol kemakmuran dan kejumawaan modalnya. Sementara perempatan-perempatannya selalu setia menegasikan simbol-simbol dan memilih menjadi potret yang hitam putih apa adanya.

Lihatlah lampu trafict yang menyala bergilir-gilir itu, dari merah, kuning kemudian hijau seolah menjadi penanda pertunjukan purba. Ada perjuangan, ada pecundang, ada aturan rimba yang dibudayakan dan ada darah serta air mata yang menetes-netes mencari tempat berpijak.

Pandanglah ketika lampu beranjak merah kawan! Jendela-jendela mewah keegoisan diketuk dengan nyanyian sumbang. Tubuh yang dibuai sejuknya pengatur suhu dan telinga yang dimanjakan oleh kenyamanan stereo atau mata yang terbiasa di disuguhi keteraturan dipaksa bersirobok dengan teriak penjaja koran, mata memelas pengamen buntung atau senyum mesum banci yang nanggung, mereka mengungkap satu hal. Penggugatan terhadap hak yang diabaikan penguasa.

Tetapi kawan, seperti kamu bilang mengutip sepenggal sajak Ho Chi Minh, "Pertandingan di mana-mana, satu harus menang, dan yang lain harus kalah" Ada pemenang dan ada pecundang begitu vonis sang takdir. Tak ada yang berubah.
Mungkin jendela itu mengintip sedikit, setipis uang logam -memang hanya untuk itu jendela mengintip- dan menutup tergesa meninggalkan denting logam yang mengadu aspal. Sisanya adalah asap dari knalpot berebut menyergap ketika kau memungutnya.
Kawan, jika kau duduk sambil memeluk lutut di perempatan sibuk ini, sementara mata menerawang lalu lalang yang nyalang menangkap suwung. Keherananku mungkin sama dengan Abu Dzar saat ia berkata, “Saya heran melihat mereka yang hidup kelaparan, tetapi tidak membawa pedang-pedang mereka dan mendatangi orang-orang kaya itu untuk mengambil harta mereka.”

Ya, Abu Dzar benar, pedang-pedang itu telah disarungkan dan dijinakan dengan segala dogma. Jakarta yang bebal memang tumbuh bersama nafsunya yang paling jorok dan menumpulkan. Tak aneh bila dia menjadi etalase dari negeri anomali yang malas berfikir akan keadilan. Keadilan bagi Jakarta dan negerinya adalah kosa kata yang hanya kencang di gedung-gedung untuk diperdebatkan dan terdengar sayup-sayup ketika sampai di perempatan. Disana pertanyaan yang berebut menghantui bukanlah besok makan apa? Tetapi , besok apa makan? Begitulah di ulang setiap harinya.

Ah, ini hanya soal tentang bagaimana memperpanjang nafas sampai besok. Dan nafas penyambung itulah yang dipertaruhkan di perempatan-perempatan dengan mengkais dan memungut. Ya, tak pernah menjadi MEREBUT !!

Benar, Jakarta adalah ironi, pengkhianatan dan srigala yang siap menelan siapa saja yang menolak dan mengguncang kemandekannya. Bahkan jauh sebelumnya, orang-orang seperti Pieter Erberveld dan Raden Kartadria-pun harus takluk ketika berencana makar terhadap VOC di pergantian tahun 1740. Meede, putri Pieter yang cantik, yang kasmaran pada opsir gantheng VOC memilih membocorkan rencana ayahnya pada kekasihnya.

Dan pesan penguasa kepada para pembangkang jelas setelah itu,
"Kepada Pieter Erberveld, warga kota, lahir di Batavia dari bapak seorang berkulit putih dan ibu berkulit hitam berusia 58 atau 59 tahun. Erberveld dan sekutunya Raden Kartadria hukumannya masing-masing diikat pada sebuah kayu salib. Tangan mereka masing-masing akan dipotong, lengan, kaki dan dada mereka akan dijepit dengan jepitan panas sampai kepingan-kepingan daging mereka terkelupas. Badan mereka kemudian akan dirobek dari bawah hingga atas, dan jantung mereka akan dilemparkan kemukanya. Setelah itu kepala mereka akan dipenggal dan dipasang pada tiang. Badan mereka yang telah berkeping-keping dibiarkan dimakan unggas"

Kisah lain menyebutkan kengerian yang sama untuk menghukum para pembangkang, bahwa tangan dan kaki Pieter diikat pada empat ekor kuda yang saling berlari kearah berlawanan. Ya, hingga tubuhnya terbelah empat.

Lalu sebuah monumen berbentuk tembok dan bercat putih diatasnya terpasang sebuah tengkorak manusia terbuat dari gips. Monumen itu tertulis : ''Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan akan penghianatan Erberveld ...... .'' Begitu dendamnya VOC pada Pieter, hingga siapapun melewati monumen itu boleh untuk mengencinginya.
Kini gambaran kisah tragis Pieter Erberveld menjadi nyata dalam keseharian, monumen-monumen pasar itu selalu mengencingi kemanusiaan kita. Siapa yang tak mendengar teriakan sumbang mereka di jalanan ketika suaranya menembus pekatnya awan berkarbon langit Jakarta? Semuanya mendengar, bahkan tembok-tembok jalanan, Ciliwung yang kotor sampai istana yang resik toh tetap sibuk dengan urusannya masing-masing, dan nyanyi itu pelan melenyap di telan sunyi.

Kawan, aku mendengar nyanyi sunyi tak lagi sesunyi yang di bayangkan Pram. Semua menjadi riuh dengan gemuruh yang memekakan dan berderap sigap menyongsong mimpi Kalabendu yang diangankan Ranggawarsita.
Ya, Jakarta sebagai panggung telah menyiapkan dirinya menjadi potret yang gagal dan absurd bagi keadilan. Dalam imajinasi manusianya, Jakarta bisa dan telah berarti apa saja. Sorga atau neraka, tumpukan sampah atau modal, semua hanya masalah seberapa yang kau punya untuk jalan kesana. Batas-batas telah dikemas menjadi setipis kulit ari dan mati bersama artinya. Selebihnya adalah horor yang menyergap dalam setiap fragmennya. Kematian dan kehidupan tak pernah mengajarkan sesuatupun selain pahit dan getir. Ya, Jakarta oleh semua telah menjadi rimba ‘the end justifies the means’. Dan Jakarta memang cabo.

Di layar tv orang tua berwajah ceria, berbangga untuk sebuah iklan, "Jakarta terapung, Jakarta punya monorel. Oke.. "

Entahlah, tiba-tiba dibenakku teringat cerita seorang kawan dari pinggiran Banjir Kanal tentang rumahnya, "Disepanjang bantaran kali itu, berderet-deret rumah saya dan senasib saya, tidak mirip rumah sebetulnya karena kalau di kampung tempat seperti itu lebih mirip kandang kambing. Atapnya plastik, sobekan terpal, atau rongsokan seng yang kadang kalau angin bertiup sedikit kencang saja semua berhamburan terbang. Dindingnya sama saja, sakketemune, kardus bekas TV, patahan papan atau apa saja asal bisa buat penghalang angin. Dan yang paling bikin saya ngenes adalah bila hujan, sejam saja hujan turun, rumah kami berubah menjadi kali. Seringkali saya merasa ikan sapu-sapu mungkin lebih beruntung dibanding kami. Tetapi, bagaimana lagi? Hanya disanalah saya menjalani hidup sebagai manusia. Dari hari kehari membangun harapan dan menyemai mimpi. Entah sampai kapan?"

Monday, April 30, 2007

Untuk pertama kalinya

Ini pertama kalinya aku menonton konser. Biasanya aku males banget kalau diajak untuk itu. Alasanku sederhana, aku tidak mau berdesak-desakan. Tapi kali ini karena Cek Wan (panggilan kawanku untuk Iwan Fals) yang bakal manggung, maka gak ada alasan buatku untuk tidak ikut nonton dia.
Duh, asyik banget...keren banget...(namanya juga fans-boleh dunk hiperbola). Dan yang bikin sedih, aku lupa membawa kamera digitalku untuk mengabadikan moment ini. Tapi tak mengapa, toh dia abadi juga di hati. Cuma sobekan tiket yang dapat kuselamatkan sebagai kenang-kenangan. Padahal aku sudah berusaha agar tiket itu tidak disobek, tapi penjaga pintu malah senyum saat aku bilang "duh disobek, padahal udah mahal-mahal belinya" Kawanku cuma bilang,"dasar ndesooooo..."
Buat Cek Wan, kapan niy main ke Banda Aceh lagi? Pakde Rendra dan Pakde Sawung Jabo juga...Aku tunggu loh...banget...

Hati-hati Penipuan!!!

Kasus penipuan semacam ini sangat marak sekarang di kotaku. Penipuan dengan modus kupon berhadiah yang terdapat dalam produk-produk terkenal.
Padahal nyata-nyata produk tersebut tidak sedang mengadakan undian dalam bentuk apapun. Mana hadiah yang diberikan gede-gede lagi. Paling kecil hadiah sepeda motor, rata-rata memberikan hadiah mobil dengan harga mahal.
Kasus yang menimpa tetanggaku, dia mendapat kupon berhadiah dari produk Unilever dengan hadiah sebuah mobil. Agak tergiur karena kali ini seperti mendapat durian runtuh, toh bukan penipu yang menghubungi kita. Namun karena ada acara kirim-kirim uang segala langsung deh jadi curiga.
Dan mamak langsung nyuruh adikku untuk melihat di internet apakah ada produk tersebut mengeluarkan undian berhadiah. Dan benar, ternyata undian itu hanya penipuan. Buat teman-teman, jangan mudah terpengaruh, sebaiknya mengecek ke costumer service produk yang bersangkutan atau ya seperti aku, coba lihat infonya di internet. JANGAN SAMPAI TERTIPU YA...

Wednesday, April 25, 2007

IBU

Sore itu saat aku sedang mengistirahatkan pikiran-pikiranku dari rutinitas yang menjemukan, aku mencoba mencari hiburan dengan menonton acara di dalam kotak hitam ukuran 29 inch di rumahku. Kutekan tanda power pada remote control tv ku, secara otomatis kotak hitam itu menampilkan acara dari stasiun tv pilihanku.
Sudah lumayan kurang aku menonton tv sekarang, sekedar melihat acara sinetron, film, reality show atau infotaiment sekarang ini, ini disebabkan aku lebih asyik dengan internet dan juga kesibukan kerja dan perkuliahanku.

Kali ini aku ingin menonton sesuatu yang menarik dari tayangan tv kali ini. Setelah beberapa kali mengganti chanel, akhirnya aku berhenti pada stasiun tv yang sedang menayangkan sebuah cerita pendek yang tak kukenal seorangpun pemainnya. Tampaknya aku ketinggalan bagian awal cerita, tapi aku tetap coba nyimak tontonan itu.

Bagus…

Menarik…

Alamiah…

Dekat dengan keseharian…


Tes…tes…
Tiba-tiba dari sudut mataku mengalir air. Semakin lama semakin banyak.

Tayangan ini menceritakan sebuah kejadian yang terjadi pada sebuah keluarga kecil yang sederhana. Sang ayah seorang buruh bangunan, sang ibu seorang ibu rumah tangga yang baik, serta seorang putri berumur sekitar 11 tahun dan putra berumur sekitar 4 tahun.

Sang kakak merasa akhir-akhir ini ibunya sering menyuruh-nyuruh dirinya untuk melakukan pekerjaan rumah. Mulai dari bereskan tempat tidur, mencuci piring, menyapu halaman, mengangkat jemuran, dan pekerjaan lainnya. Sewaktu ditanya kenapa pekerjaan itu hanya diserahkan kepadanya dan tidak kepada sang ayah, sang ayah berkata kalau itu tugas ibunya.
“oh, tugas ibu ya?” jawabnya seakan paham dan berlalu pergi.

Suatu sore ia mendengar ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. “Maaf Pak, kami sudah selesai melakukan tugas-tugas kami dan kami berhak mendapatkan upah dari pekerjaan kami. Atau kami berhenti dari pekerjaan ini” ucap sang ayah.
“Dan ini rincian nya Pak,” sambung sang ayah sambil memberi lembaran tagihan biaya yang harus dibayarkan sang tamu.
“Baiklah kalau begitu, saya akan membayar tagihan ini besok, dan saya harap bapak dan teman-teman kembali bekerja lagi dan dapat menyelesaikan proyek ini” jawab sang tamu.

Saat mendengarkan pembicaraan antara sang ayah dan tamunya, si kakak mengangguk-angguk seakan mendapat pemahaman baru, bahwa bila seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya, maka ia akan mendapatkan upah dari pekerjaannya.

Mulai detik itu perubahan tampak jelas dari tingkah laku si kakak ini. Tugas yang biasa malas-malasan dikerjakan kini dilakukan dengan semangat dan dia menjadi sangat rajin. Semua tugas dilakukan dengan segera dan sangat baik. Bahkan ia akan meminta kepada si ibu untuk memberikannya lagi tugas-tugas lain bila tugas yang diberikan oleh si ibu sudah selesai dikerjakannya.

Suatu hari, di sore yang cerah, ia menjumpai ibunya sambil membawa secarik kertas. “Bu…baca ini deh” ujarnya riang sambil memberikan kertas itu kepada si ibu.
“Apa ini?” Tanya si ibu.
“Pokoknya ibu baca saja deh,”sahutnya.
Dengan wajah penasaran sang ibu membuka kertas yang diberikan oleh si kakak.

Tagihan pekerjaan yang selesai ku kerjakan

1. Upah menjaga adik 2000 rupiah
2. Upah membersihkan halaman 1500 rupiah
3. Upah menyiram tanaman 1000 rupiah
4. Upah menyuci piring 1000 rupiah
5. Upah memberaskan tempat tidur 1000 rupiah
6. Upah menjaga rumah 500 rupiah……dst

Total upahku 10.000 rupiah

Membaca tulisan itu si ibu hanya tersenyum. “Sebentar ya nak,” ujarnya dan lalu bergegas masuk kekamarnya hendak mengambil sesuatu. Dan tak lama kemudian terlihat si ibu keluar dari kamarnya dan membawa sebuah amplop.
“Nah, ini untukmu,” ucap si ibu sambil menyerahkan amplop itu kepada si kakak.
Si kakak dengan wajah ceria dan berseri-seri menerima amplop yang diberikan oleh ibunya.
“Terima kasih ibu…” ujarnya sambil berlalu.

Kakak langsung mengambil sepedanya dan mendayungnya menuju taman yang berada di dekat rumahnya. Ia sudah tidah sabar ingin melihat upah yang dia terima selama mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ibunya. Setelah menemukan tempat yang enak, si kakak berhenti dan turun dari sepedanya.
Dengan hati berdebar-debar dibukannya amplop tersebut perlahan-lahan. Betapa herannya si kakak karena ia tak menemukan uang selembarpun didalam sana, yang ada hanya selembar kertas. Dikeluarkannya kertas tersebut dari dalam amplop, dibuka dan mulai dibacanya.

Tagihan ibu untukmu

1. Upah mengandungmu selama 9 bulan 10 hari gratis
2. Upah melahirkanmu dengan taruhan nyawaku gratis
3. Upah menyusuimu gratis.
4. Upah membersihkan popokmu gratis.
5. Upah bangun ditengah malam karena kau ngompol gratis.
6. Upah menjagamu disaat sakit gratis.
7. Upah menyuapimu gratis…dst

Total tagihan untuk kasih sayangku padamu GRATIS

Langsung si kakak melarikan sepedanya dengan cepat menuju rumahnya dengan airmata yang bercucuran.
Dari depan pintu rumahnya ia langsung berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya. Si ibu yang sedang asyik mengobrol dengan sang ayah langsung menghampiri si kakak. Saat melihat sang ibu, si kakak langsung memeluk ibunya dengan masih terus menangis.

“Maafkan kakak bu, kakak sayang ibu,” ujarnya sambil terisak-isak kemudian terus menangis sambil terus memeluk sang ibu.
Dengan senyum bijaksana dan belaian lembutnya di rambut si kakak, si ibu hanya berkata “Ibu juga sayang sama kakak.”

Aku yang menyaksikan cerita itu langsung teringat pada ibuku. Duh…betapa banyak pengorbanannya padaku selama ini. Sampai aku jadi seperti sekarang ini. Bahkan aku belum bisa membalas jasanya sedikitpun.

Ibu (mamak kalau aku memanggilnya)……
Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayangmu padaku selama ini.
Tak ada yang dapat ku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu.
Hanya doa teriring dalam setiap lirih suaraku kepada Sang Pencipta
“Seandainya aku bisa berbuat kebaikan, semoga ganjarannya diberikan juga untuk ibunda yang telah menjadi jalan terlahirnya aku ke dunia ini. Amin ya Rabbal Alamin”

Wednesday, April 11, 2007

Tempat Penitipan

Kulihat kau begitu kebingungan. Ah…biar saja. Salahmu sendiri, kau selalu tidak sabar. Padahal kau tahu perlu cara-cara tertentu untuk dapat terus bersamaku. Bahwa kau tahu aku selalu bisa diandalkan. Tetapi kau malah sering sesuka hatimu terhadapku. Kecerobohan dan ketidak-sabaranmu sering membuat aku panas dingin. Aku sering merasa tertekan secara fisik dan kejiwaan karena sikapmu. Kau tempatkan aku sesukamu. Kadang buku-bukumu yang tebal itu menghimpitku dalam tas yang sejak dari kau beli belum sekalipun kau cuci sampai sekarang, itu bisa kutahu dari baunya. Belum lagi bila kau membawa makanan yang masih hangat sebagai bekal makan pagimu dikantor atau sekadar minuman dingin untuk menghilangkan haus ditempat kuliahanmu. Padahal banyak hal-hal yang penting yang kau titipkan kepadaku untuk kusimpan, aku bagai tempat penyimpanan bagimu yang dapat sewaktu-waktu kau ambil bila kau perlukan. Dan kau meletakkan ku begitu saja dalam tas besarmu itu, terhimpit, kepanasan, kedinginan disana.

Kau masih terus mencoba untuk dapat membuka gambar yang kau titip padaku kemarin, gambar yang kau peroleh saat browsing di internet. Namun tetap gagal. Kau berusaha membuang semua titipanmu padaku, tapi sayang kau tetap bisa. Ku rasa kau membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat melakukan itu, membuat aku seperti sediakala, bersih tanpa satupun barang titipan darimu.

Aku tahu kau sayang padaku. Itu terlihat dari asesoris yang kau kenakan padaku. Sebuah gantungan berbentuk mickey mouse berwarna merah jambu dengan cantelan bintang bermatakan warna yang sama. Tapi kau hanya mempercantiku saja, dan memperlakukanku dengan buruk sekali.

Kurasa ini sudah menjadi pelajaran bagimu. Bila hal-hal yang kau titipkan kepadaku kau rasa penting maka lakukan prosedur tertentu terhadapku.

Paling tidak kau bisa melakukan Safely Remove Hardware
Kau tinggal meng-klik “safely remove USB mass storage device-drive(…)”
Menunggu beberapa saat, dan aku sudah bisa aman untuk kau cabut dari computer dan satu lagi tolong kau letakkan aku di tempat yang baik. Tidak terhimpit-himpit, kepanasan dan kedinginan. Ini untuk kelanggengan kebersamaan kita.

Terimakasih…by Data Traveler 512MB milikmu

Kekuatan Pujian

Ini kisah nyata tentang seorang penyanyi terkenal di Eropa, wanita bersuara bagus. Dia bersuamikan seorang pemusik dan seorang pengarang lagu. Begitu pandainya sang suami ini tentang lagu, nada, birama, dan hal lain di bidang musik, sehingga dia selalu menemukan apa yang harus dikoreksi ketika isterinya menyanyi.

Kalau isterinya menyanyi, selalu saja ada komentar dan kritik seperti; bagian depan kurang tinggi. Lain kali dia berkata, bagian ini kurang pelan. Kali lain dia mengkritik, "bagian akhir harusnya "kres".. naik sedikit.

Selalu saja ada komentar pedas yang dia lontarkan kalau isterinya menyanyi dan bersenandung. Akhirnya wanita itu malas menyanyi.Dia berkeputusan "Wah, tidak usah menyanyi saja, jika semua salah. Malah kadang menjadi pertengkaran..."

Singkat cerita, karena suatu musibah, sang suami meninggal dan lama setelah itu si wanita menikah lagi dengan seorang tukang ledeng. Tukang ledeng ini tidak tahu menahu soal musik. Yang ia tahu isterinya bersuara bagus dan dia selalu memuji isterinya kalau bernyanyi.

Suatu ketika isterinya bertanya, "Pak, bagaimana laguku?"
Dia menjawab antusias, "Ma, saya ini selalu ingin cepat pulang karena mau dengar engkau menyanyi."
Lain kali dia berkata, "Ma, kalau saya tidak menikah dengan engkau, mungkin saya sudah tuli karena bunyi dentuman, bunyi gergaji, bunyi cericit drat pipa ledeng, gesekan pipa ledeng dan bunyi pipa lainnya yang saya dengar sepanjang hari kalau saya bekerja. Sebelum saya menikah denganmu, saya sering mimpi dan terngiang-ngiang suara gergaji yang tidak mengenakkan itu ketika tidur. Sekarang setelah menikah dan sering mendengar engkau menyanyi, lagu mu lah yang terngiang-ngiang"

Istrinya sangat bersuka cita, tersanjung. Hal itu membuat dia gemar bernyanyi, bernyanyi dan bernyanyi. Mandi dia bernyanyi, masak dia bernyanyi dan tanpa disadarinya dia berlatih, berlatih dan berlatih.

Suaminya mendorong hingga dia mulai merekam dan mengeluarkan kaset volume pertama dan ternyata disambut baik oleh masyarakat. Wanita ini akhirnya menjadi penyanyi terkenal, dan dia terkenal bukan pada saat suaminya ahli musik, tetapi saat suaminya seorang tukang ledeng, yang memberinya sedikit demi sedikit pujian ketika dia menyanyi.

Sedikit pujian memberikan penerimaan. Sedikit pujian memberikan rasa diterima, memberikan dorongan, semangat untuk melakukan hal yang baik dan lebih baik lagi. Sedikit pujian dapat membuat seseorang bisa meraih prestasi tertinggi. Omelan, bentakan, kecaman, amarah atau kritik sesungguhnya tidak akan banyak mengubah.

Lama Panggilan 00:03:23

Tut…tut…tut…tut…tut…tu…
“Halo” sahut suara dari seberang hp ku.
“Halo, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab suara itu lagi.
“Belum tidur Mo?” tanyaku basa-basi.
“Mau tidur ni”
“Aku ngeganggu ya?”
“iya” jawabmu tanpa basa-basi.
“hihihihi….” Jujur banget niy orang. Tapi aku suka kamu yang begini
“Apa kabar Mo?”
“Baik. Hanum apa kabar?”
“Baik. Sehat banget malah, sekarang Hanum malah udah gemuk”ujarku dengan suara riang
“Senang ya?” ujarmu datar.

Aku lalu menjelaskan bahwa kemarin aku ke Tangse dan disana kerjaku makan tidur, makanya aku jadi gemuk. Memang itu cuma alasanku saja. Aku tidak ingin kamu berfikir bahwa sekarang aku senang dan saat-saat dulu aku bersamamu aku tidak senang. Aku menikmati kebersamaan kita kok.

Setelah berbicara dengan singkat lalu kita memutuskan obrolan kita,“Ya udah ya Mo, salam buat Teguh”
Teguh, adik sepupumu yang saat ini bersamamu di Kota Kembang itu untuk berlibur.
“Iya. Commo mau tidur, capek seharian jalan”
“Assalamualaikum” lanjutmu.
“Wa alaikumsalam” jawabku.
Tut……..tertulis di hp ku lama panggilan 00:03:23

Ini obrolan pertama kita. Setelah kita memutuskan untuk tidak bersama lagi dalam ikatan yang disebut “pacaran” oleh kebanyakan orang, sejak itu kita tidak saling ngobrol dan berjumpa lagi. Hanya pesan-pesan singkat melalui sms yang kita lakukan sekedar menayakan kabar, itupun bisa dihitung dengan jari.

Ada rasa kangen untuk berjumpa sekedar menatap wajahmu dan ngobrol sekedar mendengar suaramu dan menyimak setiap kata-katamu saat membacakan monolock-mu di tidur malamku.

Sampai jumpa lagi Mo…aku kangen lho… :)

Tuesday, April 10, 2007

Request

Berawal dari perkenalan dalam dunia maya yang aneh dengan mu. Kau jauh tapi begitu dekat bagi ku. Sosok mu mengingatkan ku pada saudara laki-laki ku. Sekarang kau sedang berada di negeri perantauan. Negeri sakura kata mu, Negeri Matahari terbit kataku. Sikapmu yang bijaksana membuat aku bersimpati kepada mu. Belum lagi kau begitu memperhatikan ku, mau bersusah payah mengajarkan ku bahasa negeri sakura itu. Walau aku sudah menyerah duluan sebelum kau mengajari ku.

“Asal ada kemauan pasti bisa kok. Siapapun klo mau belajar pasti pinter. Gak ada istilah orang goblok, yang ada cuma orang males aja” (ex.civic_falestra :2/5/2007 8:21:40 PM) begitu ujar mu saat aku merasa kesulitan mempelajari bahasa negeri penjajah yang pernah menjajah Indonesia selama kurang lebih tiga tahun setengah itu.

Sebagai anak Surabaya engkau juga tidak melupakan bahasa daerahmu. Kau juga fasih dengan bahasa daerahmu. Yang membuat aku kagum kau selalu mau berbagi ilmu apa saja kepadaku. Termasuk ilmu buat ngerjain orang-orang yang mengganggu Room Jakarta Global 54 atau 67 kesayanganmu juga aku.

Terus terang saat melihatmu pertama kali melalui webcam aku kaget, karena kau berbeda dengan sosok yang ku bayangkan selama ini. Dari ciri-ciri fisikmu aku bisa tahu kalau kau bukan asli keturunan nusantara, dan ternyata benar. Kau lahir dari rahim seorang wanita asal Jawa dan memiliki ayah seorang keturunan Thionghoa. Tapi itu nggak membuat aku terus menjauhi mu. Malah aku ingin lebih mengenalmu. Kau orang yang asyik untuk diajak ngobrol. Mulai dari tentang pengalaman hidup, tekhnologi sampai hal-hal baru yang lagi trend sekarang ini.

Kau seorang pekerja yang ulet menurut ku. Itu ku tahu dari ceritamu yang telah melang-lang buana hampir ke seluruh pulau di nusantara ini untuk bekerja. Mulai dari bekerja di toko roti sampai di perusahaan Futuba sekarang ini di negeri Sakura itu. Dan semua kau lakukan dengan penuh suka cita. Bagimu bekerja seperti berekreasi, kau nikmati setiap detiknya. Malah kini kau menguasai banyak bahasa daerah lain tempat kau pernah mampir dan bekerja disana.

Masa lalumu sudah mengubah cara berfikir dan bersikapmu. Itu yang kutangkap saat berbincang denganmu tentang keluargamu. Seakan itu jadi cambuk bagimu. Kini kau menjadi lebih sayang dan peduli kepada orang tua, keluarga, teman dan orang-orang disekelilingmu, seperti kepada ku, hihihi.....
Dan kau telah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mu.

"Hajime mashite" Itu kalimat pertama yang kau ajarkan kepadaku saat memulai belajar bahasa sakura itu.

Dan kau menerjemahkannya sebagai "Perkenalkan nama saya", lalu kau lanjutkan dengan kalimat-kalimat lain yang terdengar asing di telingaku, tapi mengasyikkan dan seru. Kadang dengan bahasa itu aku menyapamu di Room kita. Membuat para chatter di room itu keheranan, mungkin lebih tepatnya iri. Haha...
Itu menjadikan kau terasa semakin dekat padaku. Lain waktu kau mengajarkan aku untuk menggunakan program-program baru dari internet, dan dengan sabar kau membimbingku, padahal aku gaptek (gagap tekhnologi) banget. Temanku saja suka sebel kalau mengajari aku menggunakan layanan-layanan di internet ini, suka nggak ngerti-ngerti (semoga temanku nggak membaca tulisan ini). Dan membuat kesabarannya hilang. Hihihi...
Suatu hari kau mengatakan minta dibuatkan tulisan untukmu di blog aku yang masih bayi ini. Aku langsung setuju. Tapi aku nulis apa ya?

"Buatkan saja puisi untuk ku" ujarmu memberi ide.

"Ah mana bisa aku buat yang kayak gitu mas" Lalu aku mulai berfikir untuk membuat sebuah tulisan dengan latar belakang perkenalan kita dan saat aku belajar bahasa Jepang bersamamu.

Nah, ini hasil tulisanku mas. Jelek ya. Maklum amatir.

Hi...
Arigato...
sayonara, matta aimasyo...