Kembali Ke
Thursday, June 28, 2007
Part II; Lawuku
Mendaki gunung bukan saja hanya kegiatan fisik semata. Bahwa kita mendaki dari kaki gunung perlahan-lahan naik akhirnya sampai pada puncak gunung. Mendaki gunung lebih dari itu, selain kekuatan fisik juga dibutuhkan kekuatan mental serta keterampilan dalam membaca alam.
Bila hanya mengandalkan kekuatan fisik ada kemungkinan kita kalah dalam berjuang mencapai tujuan pendakian. Karena para pendaki-pendaki tangguh itu tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja dalam melakukan pendakian namun keterampilan mereka membaca alam sangat membantu mereka untuk menghemat tenaga dalam pendakian. Karena bagiku yang baru pertama kali naik gunung, wuih...capek banget. Apalagi harus bertarung dengan alam yang bila tiba-tiba kurang bersahabat, bisa dibayangkan kelelahannya. Dan untuk menghindari itu biasanya pendaki sudah dibekali dengan pengetahuan tentang "membaca alam".
Selain kelelahan fisik, biasanya yang menambah berat adalah kelelahan mental. Kita bisa merasa begitu hopeless saat tidak tahu seberapa jauh kita akan terus mendaki? Apakah bekal kita cukup untuk sampai dan kembali lagi? Ditambah dengan mitos-mitos yang menyeramkan tentang gunung yang akan kita daki. Bila tidak kuat, bisa-bisa sepanjang perjalanan adalah neraka bagi kita.
Ini kisahku, sebagai seorang cewek yang baru pertama mendaki gunung aku begitu antusias untuk naik gunung. Walau secara historis aku tidak pernah berjalan jauh ditambah fisikku yang tidak begitu kuat. Setelah mebujuk seorang teman yang biasa naik turun gunung, maka berangkatlah aku bersamanya ke Solo. Dari Solo kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju terminal Tawangmangu, lalu naik angkot untuk kemudian sampai ke Cemoro Kandang. Lalu istirahat sejenak dan segera melapor kepada PERUM PERHUTANI di base camp dengan membayar karcis tanda masuk sebesar Rp. 3.500/orang. Disana juga tertulis Cemoro Kandang- Puncak Lawu hanya 5-6 jam saja.
Maka pendakianpun dimulai. Dengan mengunakan baju kaos dan celana kain serta sendal jepit(soalnya sepatuku kurang nyaman), aku memulai pendakian itu. Sebentar-sebentar aku istirahat, untunglah temanku ini tipe yang sabar. Dia selalu menunggu aku setiap berhenti untuk mengambil nafas dan menghimpun tenaga kembali. Udara Lawu saat kita masih di Cemoro Kandang sudah dingin, namun atas saran temanku aku tetap menggunakan baju kaos biasa aja, agar saat mendapatka suhu yang lebih extrim sebuah baju hangat akan terasa kegunaannya.
Setapak demi setapak aku lalui, rasanya berat banget. Agak lega saat mencapai post I di ketinggian 2.300 Dpl. Lalu mulai berjalan lagi untuk mencapai pos ke II yang hampir sama jauhnya dari base camp-post pertama, hanya saja ketinggian yang di capai tidak terlalu terjal sehingga perjalanan lebih cepat, walau jaraknya lebih jauh yaitu sekitar 1.5km, lebih panjang 0.3km dibanding base camp dan post pertama yaitu sekitar 1.2km. Setelah itu bagiku mulailah penderitaan itu dimulai.
Post ketiga yang menjadi tujuanku tidak kunjung juga kutemukan, padahal jarak dan waktu yang kutempuh sudah lebih dari jarak dan waktu sewaktu di post I dan post II. Ditambah udara yang semakin dingin dan hari yang semakin gelap. Mulailah hantu-hantuan dipikiranku datang.
Mulai dari udara yang sudah bertambah dingin, hari yang gelap, lalu jalan yang dimataku terlihat begitu menyeramkan. Bila ada jalur yang sedikit terjal aku mulai ragu untuk melankah. Dengan bantuan sebuah senter aku juga terus berjalan. Aku harus menemukan post untuk beristirahat. Aku sudah sangat lelah.
Untunglah temanku bisa menenangkanku. Dengan segala filosofinya tentang apa sebenarnya tujuan naik gunung dan menikmati setiap langkah, kelelahan dan semuanya yang kita rasa disaat mendaki gunung. Maka pikiranku mulai beralih kehal-hal tersebut. Didalam keadaan hopeless itu dia mengingatkan, bahwa setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Lelah ini tidak akan selamanya. Bahwa saat akhir (yaitu puncak) itulah akhir pendakian ini, untuk selanjutnya beristirahat dan kita harus kembali menuruni gunung ini.
Ada perkataannya yang menambah semangatku. "Sepertinya post tiga sudah kita lewati deh, karena gelap kita tidak sengaja sudah melewatinya". Dalam hatiku sedikit terhibur, berarti perjalananku tidak jauh lagi untuk sampai puncak. Karena dari post empat, tinggal satu post lagi untuk sampai ke puncak, iya...satu post lagi.
Lalu sampailah kami si sebuah post dan temanku berkata "Alhamdulillah, ternyata kita masih di post tiga". Sontak aku berteriak "Anjriiiiiiiiiiiiiiiiiitttt...pokoknya besok kita langsung turun. Nggak usah jalan sampai puncak lagi. Aku nggak kuat, cukup...cukup...". Temanku hanya tersenyum. Ternyata cerita tentang post tigapun adalah akal-akalannya saja. Dia tahu persis dimana letak setiap post, dia udah puluhan kali naik Lawu. Itu hanya motivasi untukku.
Maka akhirnya kami bermalam di post tiga. Namun penderitaan tidak berakhir disitu saja. udara yang sangat dingin bikin aku panik, sehingga tiba-tiba aku susah bernafas, ditambah lagi suara krasak krusuk di luar sleeping bag bikin aku tidak bisa tidur dan bawaan ingin pipis terus (mana airnya sedingin air kulkas untuk cebok). Malam menjadi sangat panjang dengan semua penderitaan itu. Saat melihat mentari pagi, barulah aku bisa melihat secercah harapan.
Lalu kami siap-siap untuk menuruni gunung lawu itu. Menuruninya dari post tiga, temanku sempat menanyakan apakah aku yakin tidak mau melanjutkan untuk sampai kepuncak? Dan aku sudah sangat yakin dengan keputusanku itu. Sangat yakin dengan kemampuanku. Bagiku sudah merasakan naik gunung, sedikit mengetahui filosofi yang didapat dari naik gunung dengan aplikasi kehidupan sehari-hari sudah cukuplah. Lain kali saat tubuhku fit untuk naik gunung lagi, mungkin aku akan kembali. Kembali menikmati hijaunya pohon, setiap hembusan nafas yang berjuang karena kelelahan, kesunyian yang mistis dari mendaki gunung.
Terimakasih teman...
Terimakasih Lawuku...
Kalian banyak mengajarkan kepadaku tentang kehidupan selama kebersamaan kita disana mulai dari cemoro Kandang sampai Penggik.
Thursday, June 21, 2007
Part I ; Rekreasi Kelas
Ku tahu dia adalah seorang dari keluarga yang memiliki status ekonomi menengah keatas. Paling tidak sebagian besar dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya dapat dipenuhi olehnya atau keluarganya dengan baik.
Malam itu dikota yang sama sekali asing baginya namun sangat sering dia impikan untuk berkunjung kesana,
Selain datang untuk mengurus adiknya yang akan kuliah di pulau Jawa itu, ia juga datang untuk memenuhi undangan temannya yang ingin memperlihatkan sisi kehidupan lain kepadanya.
Memang sangat luar biasa baginya, baru saja semalam ia berada disebuah kamar hotel yang nyaman lengkap dengan segala fasilitas seperti mini bar, tempat tidur empuk, kamar mandi bersih dan pendingin ruangan yang menambah kenyamanan kamarnya. Namun di malam berikutnya ia harus menginap disebuah kamar kontrakan berukuran 2 x 2,5 meter seharga Rp 240.000/bulan yang…ah…tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Tidur dilantai hanya dengan beralas karpet lusuh, kadang berteman tikus dan kecoa.
Dikatakan ini rekreasi kelas karena ini bukan hal yang akan dia hadapi selamanya, ini hanya sekedar memenuhi rasa keingin tahuannya akan dunia lain dari dunia yang selama ini dikenalnya. Sebuah rekreasi kelas, turun dari kehidupan kelasnya yang biasa.
Bukan hanya pemikiran yang butuh beradaptasi dengan perubahan ini tetapi jiwa dan terlebih-lebih fisik bekerja ekstra untuk mengikuti perubahan dalam rekreasi kali ini. Bila dahulu maag adalah penyakit yang datang dikarenakan diet ketat demi menjaga bentuk tubuhnya, kini maag dikarenakan makan yang seadanya (kadang ada, kadang puasa).
Aku pernah melihat senyumnya saat itu, disiang yang panas. Senyum yang mencoba memahami makna rekreasi yang sedang dijalaninya.
"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berempati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merintih, merasakan demam, dan tak bisa tidur."
Kini dia tahu bagaimana rasanya lapar bukan karena keharusan berpuasa atau berdiet tetapi karena memang tidak ada yang hendak dimakan. Bagaimana rasanya setiap kepingan uang logam begitu berharga. Bagaimana rasanya bersetubuh dengan bau apek, tikus, kecoa dan sempitnya kamar kontrakan.
Teman…kini kau tidak hanya tau namun kini kau sudah ikut merasakan. Kini apa yang akan kau perbuat untuk sesamamu?
Wednesday, June 6, 2007
Marinir, Dari Rakyat dan Untuk Rakyat Peluruku

Choirul Anwar
Hari masih pagi benar ketika dia siuman. Memanggil emaknya dan menangis sebentar, tentu saja emaknya tak ada. Dia diam merasai ngelangut yang menjalar. Emak kembali dipangilnya, hanya sepi yang menjawab.
Matanya kembali berkabut pasrah menerawang. Menembus batas langit-langit. Ketika akhirnya dia memilih tertidur lagi, bisa jadi mungkin karena capek, sakit dan tak berdaya.
Bocah kecil itu namanya Choirul Anwar. Pagi sehari sebelumnya matanya sangat bercahaya, memandang takjub satria yang berbaris tegap di jalanan kampungnya, gagah dan bersenjata lengkap. Ya, dimatanya pagi itu para satria adalah bayangan Pandawa yang berangkat menyongsong Baratayuda Jayabinangun menumpas angkara Kurawa.
Untung tak dapat diraih dan malang memilih jalannya yang paling muskil. Padang kurusetra itu berpindah kekampungnya di Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan.
Masih diingat jelas hari itu. Dia menjerit dan menjerit sangat ketakutan ketika para satria itu menyumpah, memaki, mengejar, memukul, menendang sambil menghamburkan mimis-nya.
Pekaknya rentetan senapan bagi anak berumur tiga tahun adalah petir tengara kiamat. Sementara jerit takut dan teriak ibu-ibu yang menangis bingung adalah hymne kematian yang aneh. Ya, keduanya bersepakat merobek atmosfir panas siang itu menjadi warna darah.
Choirul juga masih ingat ketika tiba-tiba dadanya dirasa merebak panas. Panas yang belum pernah dirasainya. Benar, dada kecil itu dalam sekejap penuh oleh serpihan timah yang menyembur dari laras SS1 para satria laut itu. Timah itu menembus kejam melintas di dadanya, kemudian menelusup kedalam dan menyerempet paru-paru kiri serta bersarang disana. (lihat berita)
Tak pernah dimengerti mengapa timah keji itu memilih bersarang didadanya. Benar-benar dia tak mengerti, setidak mengerti mengapa kampungnya tiba-tiba diserbu tentara? Ah, Choirul mungkin juga tak bisa ingat ketika Mistin ibunya, rebah berkalang tanah dengan dada pecah.
Mistin
Tentu kita masih bisa membayangkan Mistin ditengah suasana kalut itu. Ada letusan senapan, ada jerit bingung para ibu, dan tangis anak-anak yang ketakutan semua melebur di siang itu.
Dalam suasana mencekam Mistin dibimbing nalurinya, naluri sebagai seorang ibu. Choirul digendongnya erat, di dekapkan lekat di dada. Sementara itu dia menyiapkan tubuhnya menyongsong lesat-pesat peluru itu.
Ya, Mistin memang menyediakan dirinya sebagai pelambat laju peluru tentara. Perbuatannya tak pernah sia-sia. Walau memang Mistin mati seketika. Tetapi buah hatinya Choirul, selamat.
Benar, Mistin hanyalah seorang ibu. Seperti ibu-ibu yang lain, dia akan sangat-sangat rela menukar jiwa untuk anaknya. Karena yang dilakukan Mistin bukanlah sebuah hal yang mewah bagi seorang ibu. Yakinlah, sekarang Mistin sedang tersenyum disana, senyum indah yang akan selalu di kenang dan menemani perjalanan manusia bernama Choirul Anwar kelak.
Ah, bahkan dalam membunuhpun mereka sangat berhemat. Satu peluru untuk dua sasaran.
Khotidjah
"Eman mak nek pohung iki gak diolah (sayang bu, bila singkong ini tidak dimasak)" mungkin itulah celetukan terakhir Dewi Khodijah kepada ibunya Selasa petang (29/5). Dua puluh empat jam kemudian parutan singkong itu masih teronggok di teras mushala. Hanya yang membedakan, mushola sekarang dipagari tulisan "Dilarang Melintas Garis Polisi Militer TNI Angkatan Laut"
Paginya belum lagi dia menyelesaikan parutan singkong itu, Khotidjah terkapar berdarah di depan pintu dapur dengan kepala pecah. Sebutir peluru senapan serbu melabrak pintu dapur. Tentu saja tembus. Belum cukup membuat kerusakam pada pintu, peluru itu menerjang kepala Khotidjah. Tembus dan merobek kepala kanannya. Khotodjah mati seketika. Yang lebih membuat giris, dia membawa pergi janinnya yang baru berumur 4 bulan.
Betul peluru tak pernah bermata. Tetapi salah apa Dewi hingga pemilik peluru itu menghamburkan padanya. Kurang baik apa Dewi pada mereka ? Teh, kopi dan camilan yang disajikannya adalah bentuk "cinta dan bakti" pada mereka. Dewi jugalah yang menggelarkan karpet di mushala ketika mereka ingin hendak berdoa. Bahkan, parutan singkong itu sedianya hendak disuguhkan mereka.
Inilah potret tentara kita. Tentara yang ditakuti bukan disegani, tentara yang bahkan semua perlengkapan mereka kitalah yang membiayai. Termasuk peluru-peluru yang kemudian bersarang di tubuh Choirul Anwar-Choirul Anwar, Mistin-Mistin, Khotidjah-Khotidjah yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Ya, peluru-peluru itu dari rakyat untuk rakyat.
Acungkan tinju kita satu padu
- bersatu bulat semangat kita
ayo terus maju...
...
Tuesday, June 5, 2007
Alarm Peringatan Dini Tsunami.
Friday, May 25, 2007
Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng
Tahu tarian Saman? Seudati? Iya benar. Itu adalah tarian khas Aceh yang sudah sangat terkenal di nusantara bahkan di dunia. Kali ini saya bukan sedang ingin membahas tentang Tari Saman atau Seudati yang sudah termasyur itu. Tapi saya ingin bercerita kepada semua tentang tari Rapai Geleng (adiknya tari Saman dan Seudati). Tari Rapai Geleng adalah seni tari berupa gerakan badan dipadukan dengan suara dan gerakan tangan,kepala dan anggota tubuh lainnya, dibawakan oleh 16 orang penari laki-laki dan 1 orang syekh. Rapai hampir sama dengan beduk akan tetapi bentuknya kecil dan sanggup diangkat dengan sebelah tangan persis sama dengan rebana akan tetapi dia agak sedikit tebal dan suaranya sangat besar. Saya tidak membahas tentang bagaimana tarian itu dibawakan atau diperagakan, tetapi saya ingin mmbahasa filosofi yang terdapat dalam tarian tersebut.Teman saya menyebutnya : Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng
Alhamdulilah Pujo Keu Tuhan. Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya. Teuma Seulaweut Ateuh Janjongan. Panghulee Alam Rasul Ambiya
(Segala Puji kepada Tuhan. Yang telah menciptakan langit dan dunia. Selawat dan salam pada junjungan. Penghulu alam Rasul Ambiya)
Nanggroe Aceh nyo Tempat loun lahee. Bak Ujoung Pantee Pulo Sumatra. Dilee Baroo. Kon Lam jaro Kaphe. Jino Hana Lee Aman Sentosa
(Daerah Aceh ini Tempat lahirku. Di ujung pantai pulau Sumatera. Dulu berada di tangan penjajah. Kini telah aman dan sentosa)
Sederet syair yang dilantunkan kolosal sebelasan pria berkostum hitam kuning berpadu manik-manik merah, serempak menggeprak panggung dengan duduk bersimpuh menabuh rapa-i (rebana khas Aceh terbuat dari kulit kambing betina) dengan ritme teratur. Tiba-tiba, tetabuhan yang tadinya berirama satu-satu, lambat, berubah cepat di iringi dengan gerak tubuh yang masih berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan. Itu tak cukup, gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Bunyi tetabuhan rapa-i begitu dahsyat menghantam sesuatu paling dalam di jiwa, menggeser kepongahan, menghadirkan ketakjuban. Tak lama, dalam satu hentakan, seluruh gerak dan bunyi tadi tiba-tiba lenyap, hening, dan diam. Ada getar magis sesaat tetabuhan dan seluruh gerak sebelasan pria muda tadi berganti hening dan diam. Setidaknya itu kesan sepintas saat menyaksikan langsung pagelaran tarian Rapa-i geleng –tari tradisional Aceh-, kapanpun dan dimanapun. Namun sesungguhnya ada getar lain yang maha dahsyat ketika kita memahami seluruh ritme gerak tarian negeri seribu konflik itu. Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian rapa-i geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan Agama, politik, sosial dan budaya mereka. Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian rapa-i geleng tersebut coba memberi pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Maaf dan permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian;
Meu nyo ka hana raseuki, yang bak bibi roh u lua. Bek susah sare bek sedeh hatee, tapie kee laen ta mita.
(Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar jangan lah susah, jangalah bersedih hati, mari kita pikirkan yang lain untuk di cari)
Kata “raseuki” yang bermakna “rezeki” dalam syair di atas, merupakan simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan perbuatan baik kepada mereka dimaknakan sebagai sebuah keberuntungan. makna sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan jahat, maka masyarakat Aceh mengartikan ketakberuntungan nasib mereka, dan ketakberuntungan itu merupakan permaafan. Gerakan beritme Cepat adalah gerak kedua, sesaat pesan yang terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan penyikapan ketika perbuatan jahat, yang dimaknakan sebagai ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi masih sebatas protes keras belaka. Seperti bunyi syair di bawah;
Hai Laot sa, ilak ombak meu Aloun kapai die eik troun meu lumba Lumba hai bacut teuk, salah bukon sa Lah loun salah mu, lah poun awai bak gata
(Wahai Laut yang berombak mengayunkan kapal naik dan turun sedikit lagi kemasukan air, itu bukan salah ku, engkaulah yang mengawalinya)
Gerakan beritme cepat ini tak lama. Segera disusul dengan gerakan tari beritme sangat cepat mengisyaratkan chaos menjadi pilihan dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Sebuah perlawanan disaat protes keras tak diambil peduli. Tetabuhan rapa-i pada gerakan beritme sangat cepat inipun seakan menjadi tetabuhan perang yang menghentak, menghantam seluruh nadi, membungkus syair menjadi pesan yang mewajibkan perlawanan dalam bentuk apapun ketika harkat dan martabat bangsa terinjak-injak. Cuplikan sajak “perang” nya “maskirbi” yang biasa dilantunkan menjadi syair dalam gerakan beritme cepat pada tarian rapa-i geleng ini bisa menjadi contoh sederetan syair-syair yang dijadikan pesan.
Doda idi hai doda idang. Geulayang balang ka putoh talo. Beureujang rayeuk banta siding. Jak tulong prang musoh nanggro
(doda idi hai doda idang –nyanyian nina bobo untuk anak- layangan sawah telah putus talinya cepatlah besar wahai ananda pergilah, perangi musuh negeri)
Pada titiknya, tiba-tiba semua gerakan tadi berhenti seketika, termasuk seluruh nyanyian syair sarat makna. Semua menjadi bisu, hening dan diam. Ini merupakan gerakan akhir dari tarian. Gerakan diam merupakan gerakan yang melambangkan ketegasan, habisnya semua proses interaksi. Bagi orang Aceh, gerak diam adalah gerak perlawanan abadi, di
Sebegitu kuatnya makna yang terkandung dalam tarian aceh ini. Namun sayang. Ketika tari tradisional Aceh diperkembangkan lebih jauh, banyak pakem dasar yang dilupakan atau ditinggalkan oleh para koregrafernya. Tari tradisi Aceh pun berubah menjadi tari kreasi baru, dengan pulasan keacehan ala kadarnya. Hanya demi “kepentingan” dan ambisi palsu koreografer tanpa terlebih dahulu mengetahui latar belakang atau filosofi yang terkandung di dalamnya.
Wednesday, May 23, 2007
H u R u F
Setelah beberapa saat disibukkan dengan cinta dan lalu aku menuangkannya dalam sebuah posting. Kini perhatianku tertuju pada “huruf”. Setelah membaca kembali tulisan-tulisanku diblog ini, terlihat sangat amburadul dan begitu jorok. Jorok dari segi teknik menulis. Mulai dari tanda baca, huruf, spell dll.Aku teringat pada kata-kata temanku tentang apa itu menulis.Bintang Matahari (5/18/2007 2:28:54 AM): sebagai sebuah huruf yang dirangkai menjadi kata dan membentuk kalimat, itu sangat bermakna, dalam, dan menyentuh...
Begitu kata temanku suatu hari, saat itu aku merasa kesulitan dalam merangkai huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat dan membentuk sebuah tulisan. Ya…dan aku sepakat untuk ini. Tulisan menurutku juga jangan hanya berhenti pada teknis menulis atau pemikiran saja. Tapi juga harus diusahakan menjejak dibumi alias aplikatif.
Bertahun kupelajari engkau,
Kucari faedah dan artimu,
Kudekati kau saban hari,
Saban aku jaga,
Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu.
Kupergunakan kamu
Menjadi senjata dialam kanan,
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan.
Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi bukuterbuka,
Bagi manusia yang membacanya.
Hendaklah kamu merendam pembacamu,
Bilalah aku disendu pilu,
Hendaklah kamu merana dalam hatinya.
Apalah nian sebabnya maka kamu
Belum tahu akan maksudku?
Pramoedya Ananta Toer
Sadar No.5 th. II,
10 januari 1947
Tuesday, May 22, 2007
Panggung
Kawan, jika kau duduk sambil memeluk lutut di perempatan sibuk ini, sementara mata yang menerawang lalu lalang nyalang hanya menangkap suwung, kau akan tahu bagaimana perasaan yang membuncah ruah di hati.
Lihatlah lampu trafict yang menyala bergilir-gilir itu, dari merah, kuning kemudian hijau seolah menjadi penanda pertunjukan purba.
Mungkin jendela itu mengintip sedikit, setipis uang logam -memang hanya untuk itu jendela mengintip- dan menutup tergesa meninggalkan denting logam yang mengadu aspal. Sisanya adalah asap dari knalpot berebut menyergap ketika kau memungutnya.
Kawan, jika kau duduk sambil memeluk lutut di perempatan sibuk ini, sementara mata menerawang lalu lalang yang nyalang menangkap suwung. Keherananku mungkin sama dengan Abu Dzar saat ia berkata, “Saya heran melihat mereka yang hidup kelaparan, tetapi tidak membawa pedang-pedang mereka dan mendatangi orang-orang kaya itu untuk mengambil harta mereka.”
Dan pesan penguasa kepada para pembangkang jelas setelah itu,
Kini gambaran kisah tragis Pieter Erberveld menjadi nyata dalam keseharian, monumen-monumen pasar itu selalu mengencingi kemanusiaan kita. Siapa yang tak mendengar teriakan sumbang mereka di jalanan ketika suaranya menembus pekatnya awan berkarbon langit
Ya,
Monday, April 30, 2007
Untuk pertama kalinya
Ini pertama kalinya aku menonton konser. Biasanya aku males banget kalau diajak untuk itu. Alasanku sederhana, aku tidak mau berdesak-desakan. Tapi kali ini karena Cek Wan (panggilan kawanku untuk Iwan Fals) yang bakal manggung, maka gak ada alasan buatku untuk tidak ikut nonton dia.Hati-hati Penipuan!!!
Kasus penipuan semacam ini sangat marak sekarang di kotaku. Penipuan dengan modus kupon berhadiah yang terdapat dalam produk-produk terkenal.Wednesday, April 25, 2007
IBU
Sudah lumayan kurang aku menonton tv sekarang, sekedar melihat acara sinetron, film, reality show atau infotaiment sekarang ini, ini disebabkan aku lebih asyik dengan internet dan juga kesibukan kerja dan perkuliahanku.
Kali ini aku ingin menonton sesuatu yang menarik dari tayangan tv kali ini. Setelah beberapa kali mengganti chanel, akhirnya aku berhenti pada stasiun tv yang sedang menayangkan sebuah cerita pendek yang tak kukenal seorangpun pemainnya. Tampaknya aku ketinggalan bagian awal cerita, tapi aku tetap coba nyimak tontonan itu.
Bagus…
Menarik…
Alamiah…
Dekat dengan keseharian…
Tes…tes…
Tayangan ini menceritakan sebuah kejadian yang terjadi pada sebuah keluarga kecil yang sederhana. Sang ayah seorang buruh bangunan, sang ibu seorang ibu rumah tangga yang baik, serta seorang putri berumur sekitar 11 tahun dan putra berumur sekitar 4 tahun.
Sang kakak merasa akhir-akhir ini ibunya sering menyuruh-nyuruh dirinya untuk melakukan pekerjaan rumah. Mulai dari bereskan tempat tidur, mencuci piring, menyapu halaman, mengangkat jemuran, dan pekerjaan lainnya. Sewaktu ditanya kenapa pekerjaan itu hanya diserahkan kepadanya dan tidak kepada sang ayah, sang ayah berkata kalau itu tugas ibunya.
“oh, tugas ibu ya?” jawabnya seakan paham dan berlalu pergi.
Suatu sore ia mendengar ayahnya sedang berbicara dengan seseorang. “Maaf Pak, kami sudah selesai melakukan tugas-tugas kami dan kami berhak mendapatkan upah dari pekerjaan kami. Atau kami berhenti dari pekerjaan ini” ucap sang ayah.
“Dan ini rincian nya Pak,” sambung sang ayah sambil memberi lembaran tagihan biaya yang harus dibayarkan sang tamu.
“Baiklah kalau begitu, saya akan membayar tagihan ini besok, dan saya harap bapak dan teman-teman kembali bekerja lagi dan dapat menyelesaikan proyek ini” jawab sang tamu.
Saat mendengarkan pembicaraan antara sang ayah dan tamunya, si kakak mengangguk-angguk seakan mendapat pemahaman baru, bahwa bila seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya, maka ia akan mendapatkan upah dari pekerjaannya.
Mulai detik itu perubahan tampak jelas dari tingkah laku si kakak ini. Tugas yang biasa malas-malasan dikerjakan kini dilakukan dengan semangat dan dia menjadi sangat rajin. Semua tugas dilakukan dengan segera dan sangat baik. Bahkan ia akan meminta kepada si ibu untuk memberikannya lagi tugas-tugas lain bila tugas yang diberikan oleh si ibu sudah selesai dikerjakannya.
Suatu hari, di sore yang cerah, ia menjumpai ibunya sambil membawa secarik kertas. “Bu…baca ini deh” ujarnya riang sambil memberikan kertas itu kepada si ibu.
“Apa ini?” Tanya si ibu.
“Pokoknya ibu baca saja deh,”sahutnya.
Tagihan pekerjaan yang selesai ku kerjakan
1. Upah menjaga adik 2000 rupiah
2. Upah membersihkan halaman 1500 rupiah
3. Upah menyiram tanaman 1000 rupiah
4. Upah menyuci piring 1000 rupiah
5. Upah memberaskan tempat tidur 1000 rupiah
6. Upah menjaga rumah 500 rupiah……dst
Total upahku 10.000 rupiah
Membaca tulisan itu si ibu hanya tersenyum. “Sebentar ya nak,” ujarnya dan lalu bergegas masuk kekamarnya hendak mengambil sesuatu. Dan tak lama kemudian terlihat si ibu keluar dari kamarnya dan membawa sebuah amplop.
“Nah, ini untukmu,” ucap si ibu sambil menyerahkan amplop itu kepada si kakak.
Si kakak dengan wajah ceria dan berseri-seri menerima amplop yang diberikan oleh ibunya.
“Terima kasih ibu…” ujarnya sambil berlalu.
Kakak langsung mengambil sepedanya dan mendayungnya menuju taman yang berada di dekat rumahnya. Ia sudah tidah sabar ingin melihat upah yang dia terima selama mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh ibunya. Setelah menemukan tempat yang enak, si kakak berhenti dan turun dari sepedanya.
Dengan hati berdebar-debar dibukannya amplop tersebut perlahan-lahan. Betapa herannya si kakak karena ia tak menemukan uang selembarpun didalam sana, yang ada hanya selembar kertas. Dikeluarkannya kertas tersebut dari dalam amplop, dibuka dan mulai dibacanya.
Tagihan ibu untukmu
1. Upah mengandungmu selama 9 bulan 10 hari gratis
2. Upah melahirkanmu dengan taruhan nyawaku gratis
3. Upah menyusuimu gratis.
4. Upah membersihkan popokmu gratis.
5. Upah bangun ditengah malam karena kau ngompol gratis.
6. Upah menjagamu disaat sakit gratis.
7. Upah menyuapimu gratis…dst
Total tagihan untuk kasih sayangku padamu GRATIS
Langsung si kakak melarikan sepedanya dengan cepat menuju rumahnya dengan airmata yang bercucuran.
Dari depan pintu rumahnya ia langsung berteriak-teriak memanggil-manggil ibunya. Si ibu yang sedang asyik mengobrol dengan sang ayah langsung menghampiri si kakak. Saat melihat sang ibu, si kakak langsung memeluk ibunya dengan masih terus menangis.
“Maafkan kakak bu, kakak sayang ibu,” ujarnya sambil terisak-isak kemudian terus menangis sambil terus memeluk sang ibu.
Dengan senyum bijaksana dan belaian lembutnya di rambut si kakak, si ibu hanya berkata “Ibu juga sayang sama kakak.”
Aku yang menyaksikan cerita itu langsung teringat pada ibuku. Duh…betapa banyak pengorbanannya padaku selama ini. Sampai aku jadi seperti sekarang ini. Bahkan aku belum bisa membalas jasanya sedikitpun.
Ibu (mamak kalau aku memanggilnya)……
Terima kasih atas segala pengorbanan dan kasih sayangmu padaku selama ini.
Tak ada yang dapat ku lakukan untuk membalas semua kebaikanmu.
Hanya doa teriring dalam setiap lirih suaraku kepada Sang Pencipta
“Seandainya aku bisa berbuat kebaikan, semoga ganjarannya diberikan juga untuk ibunda yang telah menjadi jalan terlahirnya aku ke dunia ini. Amin ya Rabbal Alamin”
