Saturday, August 4, 2007

"...if the king only knews!"

Sejak ratusan tahun lalu, dari ujung Granada di selatan sampai Konstatinopel di timur. Angin yang berbisik membawakan pesan pedih, bercampur setengah harap : "...if the King only knews!".

Di dunia timur tak jauh beda. Pada gugusan pulau dari ujung Seram sampai Pasai, setiap doa yang dipanjatkan, selalu disisipi ratap keputusasaan: "...seandainya Baginda tahu!!"

Dulu, kromo di jaman jawa kerajaan mengenal istilah pepe. Yakni berjemur di alun-alun sebagai bentuk protes. Suatu tradisi perlawanan kromo terhadap raja, yang didasari ketidakpuasan atas kebijakan yang diambil kerajaan. Kromo yang tidak puas itu merebahkan diri di alun-alun, berjemur di bawah sinar matahari, dan rela diguyur hujan untuk memohon perhatian raja. Kromo akan tetap berjemur di antara ringin kurung (beringin kembar di alun-alun) sampai protesnya ditanggapi.

Bagaimana di Nusantara kontemporer? Nyaris tak berubah. Sekarang dan disini, dari pelosok dataran tandus Gunung Kidul sampai lautan lumpur Sidoarjo, semilir angin menenteng rintihan serta keluhan nestapa yang menyayat : "..seandainya tuan presiden tahu!". Ah, lalu berbondong-bondong dan berkerumun-kerumun nestapa diadukan.

Bayangkan suatu hari, ketika sedang nyeyak-nyeyaknya tidur tiba-tiba lumpur menyembur. Pertama hanya menggenangi sawah. Kemudian pekarangan, lalu perlahan masuk pelataran rumah. Sebulan berselang, masjid, kuburan, jalan desa sampai lapangan bola berubah menjadi genangan lumpur yang mengerikan. Hanya lumpur sejauh mata memandang, lumpur dan lumpur. Setahun berselang janji hanyalah janji.

Ya,
if the King only knews, seandainya baginda tahu atau seandainya tuan presiden tahu selalu menjadi mantra dan jalan keluar. King, Baginda atau Tuan Presiden dianggap orang-orang pilihan yang di tunjuk langsung oleh tuhan dengan membajak Vox populi vox dei. Pepe di jaman kontemporer?

Ah, demokrasi modern yang dikarbit disini bukankah telah menciptakan katup-katupnya sendiri?
Saluran disediakan, mekanisme di bakukan seperti coblosan yang menjadi jalan keluar. Realitas di remas dan di kemas oleh TV dan koran lengkap dengan manipulasinya. Selalu dan lagi-lagi kromo dirampok elitnya.

Jadi bila lumpur tetap menyembur? Bukan berati Tuan presiden tidak tahu derita rakyatnya. Juga bukan berarti ber
bondong-bondongnya jerit tangis yang diadukan tak didengar. Bukan, sekali kali bukan. Tuan Presiden kita tahu kok derita rakyatnya. Tak percaya? Buktinya ketika ketika rombongan diterima, Tuan Presiden kita menangis saking terharunya sambil menahan geram, "Saya akan turun gunung secepatnya" Hasilnya mujarab. Lumpur serta segala masalahnya tetap menyembur.

Ya, Raja, Baginda atau Tuan Presiden selalu dianggap menjadi si Apokalips
yang berhak memiliki keistimewaan, tentang sesuatu yang tersembunyi dari umat manusia pada umumnya. Dan dengan memaknai raja sebagai wakil tuhan yang pengasih dan maha penyayang arti kalimat "seandainya baginda tahu" atau "Seandainya tuan presiden tahu" dianggap menjadi harapan terakhir penyelamatan.

Dus , jadilah kromo selalu dibodohi dan dipaksa percaya. Seandainya raja atau tuan presiden tahu, dia pasti akan membebaskan nestapa rakyatnya dengan menghukum menteri-menterinya yang jahat. Tentu, termasuk menghukum menteri yang rajin menghibahkan puluhan ribu meter kubik lumpur tiap hari. Sayangnya, seperti biasa pertolongan raja tak kunjung datang. Tak ada yang mau mempercayai bahwa raja, baginda atau presiden telah melupakan mereka. Bahkan kromo juga tak tahu atau tak mau tahu justru bagindalah yang pertama mengkhianati rakyat. Baginda rajalah yang dengan penuh kesadaran membiarkan menteri, hulubalang, punggawa sampai kroco belo-nya menindas dan merampok untuk kepentingannya.

Jadi suara lirih yang di dendangkan dari Granada sampai Konstatinopel, dari Seram sampai Pasai dan dari Gunung Kidul sampai Sidoarjo haruslah dimaknai sebagai suara keabadian. Nyaris seabadi tuhan itu sendiri. Suara keabadian yang bahkan para rasulpun menyerah membujuk suara itu agar diam. Keluh di Hira atau teriakan di gumuk Golgota hanyalah penegasan atas kegagalan misinya.

Friday, August 3, 2007

Resep

Sore itu aku menemui seorang teman di apotik tempat tempatnya bekerja. Ada sedikit urusan dengannya. Apotik itu juga tempat dulu aku bekerja bersamanya. Saat itu sedang ramai dan aku memutuskan untuk menunggu saja dan membiarkanmu melayani pasien yang datang untuk menebus resepnya.

Saat itu ada sepasang orang tua yang sedang membawa anak berusia sekitar 3 tahun. Terlihat sang anak begitu lemah dipangkuan sang ayah. Lalu tiba-tiba ingatanku kembali kepada kejadian beberapa tahun lalu. Saat di sebuah koran diberitakan tentang kematian seorang bocah berumur sekitar tiga tahun (Khaerunisa) meninggal akibat muntaber.
Kematiannya menjadi fenomenal dikarenakan si bapak (Supriono) yang hanya berprofesi sebagai pemulung tidak bisa menyewa mobil jenazah dan membawa mayat si anak dengan menggendong dan menumpang di kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor dimana sang anak rencananya akan dimakamkan di Kampung Kramat, Bogor.

Sial baginya, Supriono dibawa ke Polsektro Tebet oleh penumpang KRL yang curiga. Ia pun dipaksa kembali ke RSCM untuk urusan autopsy. Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari". Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya.

Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba,meski hanya terbaring digerobak ayahnya Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6/2005) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.

Ya, hidup negara ini sudah begitu kejam. Jangankan untuk hidup, bahkan untuk matipun sulit. Kalau kau miskin maka jangan mati, karena kau akan bernasib sama seperti Khaerunisa nanti. Ternyata Negara ini belum berpihak kepada si miskin. Memberantas kemiskinan hanya omong kosong belaka, ternyata si miskin tetaplah miskin. Dan ini terjadi di negara yang beragama dan Pancasilais. Lalu dimana letak kemanusiaan?

Namun aku sepakat dengan Psikolog Sartono Mukadis untuk kasus Chaerunisa. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia".

Negara ini hanya mampu menyisihkan 2,6% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk kesehatan. Bandingkan bila dana BLBI 650 triliyun itu di gunakan untuk anggaran kesehatan. Anggaran yang mestinya untuk memerangi kemiskinan telah habis terkuras untuk membayar cicilan utang yang menurut data Koalisi Anti Utang (KAU) pada tahun ini mencapai Rp69,8 triliun. Padahal angka Rp69,8 triliun itu mestinya dapat memenuhi target anggaran minimal 20% untuk pendidikan, kesehatan dan bantuan bencana alam.

Lalu ditambah dengan program kesehatan yang tidak memihak si miskin seperti Supriono. Karena askses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masyarakat miskin mempunyai syarat-sayarat tertentu seperti KK, KTP dsb untuk mengurus surat keterangan miskin. Setelah itu barulah mereka dapat dilayani di pusat-pusat pelayanan kesehatan milik pemerintah. Sedang orang-orang seperti Supriono hidup di grobak dan berpindah-pindah jangankan KK, KTP pun tidak punya. Bagaimana caanya dia mendapatkan surat-surat tersebut? Maka bila dia tidak terdaftar menjadi salah satu warga dimanapun di negara ini maka akses untuk mendapat pelayanan kesehatan adalah mustahil. Sudahkah Negara ini berpihak kepada mereka?

Lalu aku tercenung melihat kedalam diriku. Apa yang sudah aku lakukan? Apakah aku harus menunggu negara pulih? Karena obat-obatan lama telah resisten dengan penyakit bangsa ini. Perlu resep baru yang lebih manjur agar keadilan menjadi keadilan yang merata. Tidak hanya berpihak kepada yang mampu tapi juga kepada yang tidak mampu.

Masih di ruang tunggu apotik tempat aku menunggu temanku. Aku memikirkan formulasi resep bagi orang-orang seperti Supriono. Aku rasa bila menunggu formulasi dari negara ini akan terlambat. Paling tidak akan mengorbankan Chairunisa-chairunisa yang lain.

Formulasi Resep ini kunamakan “Kesederhanaan”. Mulai dari hanya menggambil sesuai kebutuhan dan memberi sesuai kemampuan.

NB: tulis ini juga untuk memenuhi janji sebuah postingan tentang resep pavoritku. Dan ini resepnya. Resep yang coba terus kucicipi

Wednesday, August 1, 2007

Sial

Apakah kau pernah merasa bahwa hidupmu merupakan perpindahan dari satu kesialan ke kesialan yang lain? Bahwa hidupmu serasa diliputi kegelapan. Bahkan kau sudah dapat meramalkan masa depanmu sendiri dengan tepat, yaitu kau akan selalu "sial".
Mungkin saat kau merasa selalu sial bukanlah sesuatu perkara yang besar. Namun bagaimana saat orang yang berada di dekatmu merasa sial karena kehadiranmu? Apalagi meraka adalah orang-orang yang kau cintai. Seakan kau merasa sebuah kutukan keabadian menyinggapimu. Kau terkutuk. Kau membawa sial. Kehadiranmu musibah bagi yang lain.

Aku pernah merasakan itu. Sangat perih dan pedih. Bahkan suara hatiku seperti deruman suara pesawat berteriak sakit di jiwa. Coba mencari jawaban akan semua kesialan itu. Apakah benar aku sial? Kenapa Tuhan memberikan nasib ini kepadaku? Apa salahku sehingga didekatku mereka menjadi sial? Apakah benar hidupku akan terus sial? puluhan pertanyaan berputar dan berseliweran tak karuan dikepalaku.

Mencoba mencari jawaban yang ada malah rasa terpuruk. Perasaan merasa keberadaan diri ini menjadi sia-sia. Hanya dengan sebuah pernyataan-pernyataan ringan seorang teman mungkin, atau orang tua, atau saudara, atau malah kekasih. Bagi mereka yang mengucapkan mungkin terasa ringan. Namun bagi jiwa yang memikulnya. Beban itu terasa sangat berat. Seberat dunia dan seluruh isinya.

Tapi kau jangan khawatir, ini adalah perasaan-perasaan orang yang dengan sebuah pernyataan kemudian mendramatisir abis semuanya.

"Kenapa ya, kalau ada kamu kita selalu sial?" atau
" Hidupmu memang membawa sial keluarga ini" atau
" Selama aku berhubungan dengan kamu, aku selalu dirundung sial"

Pernah mendengar perkataan seperti itu? atau yang sejenisnya? atau kau sendiri pernah mengucapkannya untuk seorang teman, adik, kakak, atau pacarmu sendiri?

Kalau kau pernah dituduh sebagai pembawa sial. Yakinlah, kau hanya jadi kambing hitam dari kesialan orang tersebut. Kalaupun suatu musibah menimpa seseorang dikarenakan kesilapanmu. Yakinlah, kau hanya perantara dari kehendakNya.

Yang harus kau lakukan pertama-pertama sekali adalah jangan mendramatisir keadaan sehingga kau menggambil tempat di sudut yang sengaja di sediakan oleh orang yang mengatakan kau sial. Anggaplah bahwa dia hanya butuh seseorang yang dijadikan tumbal untuk kegagalan didirnya sendiri, dan kau orang yang terpilih itu karena kau berada tepat disaat yang tidak tepat. So, kau bukan si pembawa sial.

Kalau kesialan orang tersebut berhubungan denganmu dikarenakan kesilapanmu, maka cepat-cepatlah minta maaf. Namun tetaplah berfikir proporsional. Seperti mengganti kata-kata sial dengan musibah, agaknya bisa sedikit meringankan. Kau manusia bukan Nabi apalagi Tuhan yang tidak pernah berbuat salah. Kesalahan hal yang lumrah, manusiawi, namun jangan menjadikan ini alasan untuk terus berada dalam kesalahan. Teruslah belajar dan memperbaiki diri. Dan ingat mungkin melalui dirimu Tuhan lagi mengetes orang lain. Jadi tetap berfikir positif ya. kesalahanmu bila dimafaatkan dengan benar untuk orang lain akan menjadi nilai lebih buat dirinya, Dan saat kau dapat menyikapi ini dengan baik pula maka kau akan lebih baik dalam

Tapi bagaimana kalau " pembawa sial" itu sering diucapkan orang-orang untukmu? hhhmmmm... Kayaknya harus mulai dipikirkan kalau kau mungkin benar-benar membawa sial. Wkakakakakaka...becanda...becanda...

Kupikir, sekali atau seribu kali sama saja kalau kau mulai mendramatisir keadaan dan mengambil tempat di sudut untuk memposisikan dirimu. Mulailah dengan tidak terlalu sensitif dan mengerti mereka dengan menganggap apa yang mereka katakan hanya pelarian dari ketidak mampuan diri mereka sendiri. Karena Apa yang menimpa diri kita sejatinya adalah buah dari perbuatan kita sendiri. Tidaklah logis saat kau melakukan kejahatan maka orang lain yang kena getah dari pohon kejahatan yang kau lakukan, begitu juga sebaliknya.

Dan bagi kalian yang telah mengatakan "kau membawa sial" kepada orang lain. mulailah untuk menjaga mulut kalian. karena itu perkataan menyakitkan. Baik kau bercanda apalagi serius mengatakannya. Terima dengan besar hati ketidak mampuan dirimu, agar di lain waktu bisa memperbaikinya. Dan minta maaflah pada orang yang kalian sakiti. Karena seperti yang kukatakan "mengucapkan mungkin terasa ringan. Namun bagi jiwa yang memikulnya. Beban itu terasa sangat berat. Seberat dunia dan seluruh isinya".

Saturday, June 30, 2007

Juli di bulan Juni

Aku lahir dibulan Juli, tapi Juni adalah bulan yang yang penuh kenangan bagiku. Akulah Juli di bulan Juni. Banyak tawa dan air mata yang datang silih berganti, tak ada seharipun yang dilewati dengan kehampaan. Penuh warna, tak hanya hitam dan putih saja. Juli melihat banyak pelangi di bulan Juni. Di bulan Juni, Juli banyak belajar tentang kehidupan. Belajar dari melihat, merasakan, memahami dan akan terus belajar.

Banyak cerita di bulan Juni. Dari butanya akan dunia sampai mulai melangkah menuju cahaya. Ke-Juni-an lah yang mengajarkan Juli untuk tetap hidup dalam setiap bulannya. Junilah yang membuat hari-hari Juli terasa lebih indah. Kenangan Juni membuat hari-hari Juli menjadi lebih berarti.

Juni pernah berkata kepada Juli "Lawan rasa takutmu...hadapi..hadapi..."

Dari Juni, Juli belajar bahwa dunia bukan hanya melihat bintang bulan dan matahari saja. Tetapi dari dunia juga terlihat hamparan karpet lusuh kelaparan dan kemiskinan serta ketidak adilan. Ya, dunia terdiri dari gunung-gunung tangis dan jerit kesakitan. Dunia adalah pahitnya buah dari pohon nasib dan kumpulan kemelaratan dari sungai penjajahan yang kekal.

Juni pernah menunjukkan kepada Juli bahwa terkadang batas surga dan neraka hanya terpisahkan oleh setipis tembok atau segaris pembatas jalan. Juni juga sering memperlihatkan air mata dukanya kepada Juli, saat melihat sebagian anak yang bermain di pusat hiburan dituntun oleh seorang perawat cantik, menggunakan kereta dorong bersama orang tuannya yang berjalan angkuh. Sementara disebelah dinding lainnya, ada anak-anak yang dengan telanjang kaki sedang berjuang untuk hidup. Menjajakan minuman dingin demi dapat makan hari ini tanpa pernah tahu siapa orang tuanya.

Seringkali Juni tersenyum sinis kepada Juli. Senyum itu seakan-akan berkata, "bukankah duniamu berada dibelahan dunia si anak penjual minuman itu?"
Lalu, Juni hanya tertunduk dengan ekspresi muka yang bercampur baur.

Juli banyak diam saat Juni memperlihatkan bahwa sebenarnya segala fasilitas yang ditawarkan para kapitalis itu bukanlah kebutuhan yang benar-benar Juli butuhkan. Demi kertas toilet untuk membersihkan kemaluan dan lubang anus atau tissue untuk pembersih kotoran dari topeng-topeng yang dikenakan si kaya, berapa banyak pohon yang ditebang? Yang mengakibatkan longsor dan menimbun rumah para penduduk yang tidak pernah mengecap lembutnya kertas toilet dan tissue. Karena mereka selamanya telah mencukupkan diri menggunakan air untuk cebok dan menggunakan kain untuk nge-lapnya. Demi memberikan kenyamanan pada si kaya saat berada di Mall, Cafe atau Restauran berapa banyak energi yang dibutuhkan lalu mengakibatkan pemanasan global? Sedang saat pemanasan global itu terjadi bukan hanya si kaya yang terkena efeknya, tapi si miskinpun terkena getah nangka yang tidak pernah dia kecap manisnya.

Juli kembali terdiam. Entahlah, Juni seakan tidak perduli apakah Juli paham atau tidak. Bagi Juni inilah dunia, baik Juli paham atau tidak, baik juli tahu atau tak mau tahu.
Tapi apakah Juli seonggok batu tanpa perasaan?

Kenyamanan hidup telah membuat urat-urat kepedulian sosial Juli resisten terhadap kejadian di sekitarnya. Sebuah jentikan jari Juni semoga bisa menyadarkan Juli dari mimpi panjang tentang "dunianya". Dunia yang berisi kenyamanan dan ketersediaan segala kebutuhannya.

Juni berharap, sekarang Juli paling tidak sadar bahwa saat menggunakan tisseu untuk membersihkan wajahnya dibagian gunung sana sebuah pohon telah berkorban untuk ditebang. Sadar saat Juli menggunakan lampu listrik dirumah, efek pemanasan global juga terkena pada yang tidak pernah merasakan terangnya malam berlampukan listrik.

Juli...
Juni banyak menitipkan harapan padamu

Jentikan Juni...
Semoga tidak menjadi tamparan.

Pelangi...
Kini warnamu tampak lebih indah dari biasanya dimata Juli.

Thursday, June 28, 2007

Part II; Lawuku

Naik gunung adalah sesuatu yang asyik. Udara yang sejuk, hijaunya pepohonan, kesunyian yang mistis serta keluasan dalam memandang. Pemandangan dikaki bukit tentu berbeda dengan pandangan di puncak bukit. Namun terkadang kita yang berada dikaki gunung sudah merasa puas dengan pemandangan yang dikaki gunung, padahal bila kita mau bersusah payah sedikit saja, kita akan menemukan pemandangan yang lebih luas lagi dari puncak gunung. Setiap tempat memberikan pemandangan yang berbeda, namun keluasan penglihatan yang berada dipuncak pasti lebih luas dari yang berada di kaki gunung.

Mendaki gunung bukan saja hanya kegiatan fisik semata. Bahwa kita mendaki dari kaki gunung perlahan-lahan naik akhirnya sampai pada puncak gunung. Mendaki gunung lebih dari itu, selain kekuatan fisik juga dibutuhkan kekuatan mental serta keterampilan dalam membaca alam.

Bila hanya mengandalkan kekuatan fisik ada kemungkinan kita kalah dalam berjuang mencapai tujuan pendakian. Karena para pendaki-pendaki tangguh itu tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja dalam melakukan pendakian namun keterampilan mereka membaca alam sangat membantu mereka untuk menghemat tenaga dalam pendakian. Karena bagiku yang baru pertama kali naik gunung, wuih...capek banget. Apalagi harus bertarung dengan alam yang bila tiba-tiba kurang bersahabat, bisa dibayangkan kelelahannya. Dan untuk menghindari itu biasanya pendaki sudah dibekali dengan pengetahuan tentang "membaca alam".


Selain kelelahan fisik, biasanya yang menambah berat adalah kelelahan mental. Kita bisa merasa begitu hopeless saat tidak tahu seberapa jauh kita akan terus mendaki? Apakah bekal kita cukup untuk sampai dan kembali lagi? Ditambah dengan mitos-mitos yang menyeramkan tentang gunung yang akan kita daki. Bila tidak kuat, bisa-bisa sepanjang perjalanan adalah neraka bagi kita.

Ini kisahku, sebagai seorang cewek yang baru pertama mendaki gunung aku begitu antusias untuk naik gunung. Walau secara historis aku tidak pernah berjalan jauh ditambah fisikku yang tidak begitu kuat. Setelah mebujuk seorang teman yang biasa naik turun gunung, maka berangkatlah aku bersamanya ke Solo. Dari Solo kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju terminal Tawangmangu, lalu naik angkot untuk kemudian sampai ke Cemoro Kandang. Lalu istirahat sejenak dan segera melapor kepada PERUM PERHUTANI di base camp dengan membayar karcis tanda masuk sebesar Rp. 3.500/orang. Disana juga tertulis Cemoro Kandang- Puncak Lawu hanya 5-6 jam saja.

Maka pendakianpun dimulai. Dengan mengunakan baju kaos dan celana kain serta sendal jepit(soalnya sepatuku kurang nyaman), aku memulai pendakian itu. Sebentar-sebentar aku istirahat, untunglah temanku ini tipe yang sabar. Dia selalu menunggu aku setiap berhenti untuk mengambil nafas dan menghimpun tenaga kembali. Udara Lawu saat kita masih di Cemoro Kandang sudah dingin, namun atas saran temanku aku tetap menggunakan baju kaos biasa aja, agar saat mendapatka suhu yang lebih extrim sebuah baju hangat akan terasa kegunaannya.

Setapak demi setapak aku lalui, rasanya berat banget. Agak lega saat mencapai post I di ketinggian 2.300 Dpl. Lalu mulai berjalan lagi untuk mencapai pos ke II yang hampir sama jauhnya dari base camp-post pertama, hanya saja ketinggian yang di capai tidak terlalu terjal sehingga perjalanan lebih cepat, walau jaraknya lebih jauh yaitu sekitar 1.5km, lebih panjang 0.3km dibanding base camp dan post pertama yaitu sekitar 1.2km. Setelah itu bagiku mulailah penderitaan itu dimulai.

Post ketiga yang menjadi tujuanku tidak kunjung juga kutemukan, padahal jarak dan waktu yang kutempuh sudah lebih dari jarak dan waktu sewaktu di post I dan post II. Ditambah udara yang semakin dingin dan hari yang semakin gelap. Mulailah hantu-hantuan dipikiranku datang.

Mulai dari udara yang sudah bertambah dingin, hari yang gelap, lalu jalan yang dimataku terlihat begitu menyeramkan. Bila ada jalur yang sedikit terjal aku mulai ragu untuk melankah. Dengan bantuan sebuah senter aku juga terus berjalan. Aku harus menemukan post untuk beristirahat. Aku sudah sangat lelah.

Untunglah temanku bisa menenangkanku. Dengan segala filosofinya tentang apa sebenarnya tujuan naik gunung dan menikmati setiap langkah, kelelahan dan semuanya yang kita rasa disaat mendaki gunung. Maka pikiranku mulai beralih kehal-hal tersebut. Didalam keadaan hopeless itu dia mengingatkan, bahwa setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Lelah ini tidak akan selamanya. Bahwa saat akhir (yaitu puncak) itulah akhir pendakian ini, untuk selanjutnya beristirahat dan kita harus kembali menuruni gunung ini.

Ada perkataannya yang menambah semangatku. "Sepertinya post tiga sudah kita lewati deh, karena gelap kita tidak sengaja sudah melewatinya". Dalam hatiku sedikit terhibur, berarti perjalananku tidak jauh lagi untuk sampai puncak. Karena dari post empat, tinggal satu post lagi untuk sampai ke puncak, iya...satu post lagi.

Lalu sampailah kami si sebuah post dan temanku berkata "Alhamdulillah, ternyata kita masih di post tiga". Sontak aku berteriak "Anjriiiiiiiiiiiiiiiiiitttt...pokoknya besok kita langsung turun. Nggak usah jalan sampai puncak lagi. Aku nggak kuat, cukup...cukup...". Temanku hanya tersenyum. Ternyata cerita tentang post tigapun adalah akal-akalannya saja. Dia tahu persis dimana letak setiap post, dia udah puluhan kali naik Lawu. Itu hanya motivasi untukku.

Maka akhirnya kami bermalam di post tiga. Namun penderitaan tidak berakhir disitu saja. udara yang sangat dingin bikin aku panik, sehingga tiba-tiba aku susah bernafas, ditambah lagi suara krasak krusuk di luar sleeping bag bikin aku tidak bisa tidur dan bawaan ingin pipis terus (mana airnya sedingin air kulkas untuk cebok). Malam menjadi sangat panjang dengan semua penderitaan itu. Saat melihat mentari pagi, barulah aku bisa melihat secercah harapan.

Lalu kami siap-siap untuk menuruni gunung lawu itu. Menuruninya dari post tiga, temanku sempat menanyakan apakah aku yakin tidak mau melanjutkan untuk sampai kepuncak? Dan aku sudah sangat yakin dengan keputusanku itu. Sangat yakin dengan kemampuanku. Bagiku sudah merasakan naik gunung, sedikit mengetahui filosofi yang didapat dari naik gunung dengan aplikasi kehidupan sehari-hari sudah cukuplah. Lain kali saat tubuhku fit untuk naik gunung lagi, mungkin aku akan kembali. Kembali menikmati hijaunya pohon, setiap hembusan nafas yang berjuang karena kelelahan, kesunyian yang mistis dari mendaki gunung.

Terimakasih teman...
Terimakasih Lawuku...
Kalian banyak mengajarkan kepadaku tentang kehidupan selama kebersamaan kita disana mulai dari cemoro Kandang sampai Penggik.

Thursday, June 21, 2007

Part I ; Rekreasi Kelas

Ku tahu dia adalah seorang dari keluarga yang memiliki status ekonomi menengah keatas. Paling tidak sebagian besar dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya dapat dipenuhi olehnya atau keluarganya dengan baik.

Malam itu dikota yang sama sekali asing baginya namun sangat sering dia impikan untuk berkunjung kesana, Jakarta. Dia beristirahat di sebuah kamar hotel dengan tarif Rp 355.000/semalam setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari istananya selama ini, tempat seperti itu sudah menjadi standar baginya.

Selain datang untuk mengurus adiknya yang akan kuliah di pulau Jawa itu, ia juga datang untuk memenuhi undangan temannya yang ingin memperlihatkan sisi kehidupan lain kepadanya.

Memang sangat luar biasa baginya, baru saja semalam ia berada disebuah kamar hotel yang nyaman lengkap dengan segala fasilitas seperti mini bar, tempat tidur empuk, kamar mandi bersih dan pendingin ruangan yang menambah kenyamanan kamarnya. Namun di malam berikutnya ia harus menginap disebuah kamar kontrakan berukuran 2 x 2,5 meter seharga Rp 240.000/bulan yang…ah…tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Tidur dilantai hanya dengan beralas karpet lusuh, kadang berteman tikus dan kecoa.

Dikatakan ini rekreasi kelas karena ini bukan hal yang akan dia hadapi selamanya, ini hanya sekedar memenuhi rasa keingin tahuannya akan dunia lain dari dunia yang selama ini dikenalnya. Sebuah rekreasi kelas, turun dari kehidupan kelasnya yang biasa.

Bukan hanya pemikiran yang butuh beradaptasi dengan perubahan ini tetapi jiwa dan terlebih-lebih fisik bekerja ekstra untuk mengikuti perubahan dalam rekreasi kali ini. Bila dahulu maag adalah penyakit yang datang dikarenakan diet ketat demi menjaga bentuk tubuhnya, kini maag dikarenakan makan yang seadanya (kadang ada, kadang puasa).

Aku pernah melihat senyumnya saat itu, disiang yang panas. Senyum yang mencoba memahami makna rekreasi yang sedang dijalaninya. Ada rasa iba dihatiku namun aku melihat sebuah kekuatan disana. Kekuatan untuk memahami sesamanya. Bukan aku saja, tapi aku juga tahu dia berharap ini tidak hanya rekreasi dan kemudian menjadi kenangan tentang perjalanan hidupnya, tetapi bisa membekas dan bermanfaat. Sehingga dia memiliki pisau analisa yang tajam tentang hidup dan kehidupan ini. tidak hanya bersimpati tetapi juga berempati. Berempati…ini mengingatkan aku akan kata-kata sahabatku sahabatku yang lahir di abad ke-6 itu Muhammad bin Abdullah

"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling berempati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh, jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuh akan ikut merintih, merasakan demam, dan tak bisa tidur."

Kini dia tahu bagaimana rasanya lapar bukan karena keharusan berpuasa atau berdiet tetapi karena memang tidak ada yang hendak dimakan. Bagaimana rasanya setiap kepingan uang logam begitu berharga. Bagaimana rasanya bersetubuh dengan bau apek, tikus, kecoa dan sempitnya kamar kontrakan.

Teman…kini kau tidak hanya tau namun kini kau sudah ikut merasakan. Kini apa yang akan kau perbuat untuk sesamamu?

Jakarta, 21 Juni 2007

Wednesday, June 6, 2007

Marinir, Dari Rakyat dan Untuk Rakyat Peluruku


Choirul Anwar


Hari masih pagi benar ketika dia siuman. Memanggil emaknya dan menangis sebentar, tentu saja emaknya tak ada. Dia diam merasai
ngelangut yang menjalar. Emak kembali dipangilnya, hanya sepi yang menjawab.

Matanya kembali berkabut pasrah menerawang. Menembus batas langit-langit. Ketika akhirnya dia memilih tertidur lagi, bisa jadi mungkin karena capek, sakit dan tak berdaya.

Bocah kecil itu namanya Choirul Anwar. Pagi sehari sebelumnya matanya sangat bercahaya, memandang takjub satria yang berbaris tegap di jalanan kampungnya, gagah dan bersenjata lengkap. Ya, dimatanya pagi itu para satria adalah bayangan Pandawa yang berangkat menyongsong
Baratayuda Jayabinangun menumpas angkara Kurawa.

Untung tak dapat diraih dan malang memilih jalannya yang paling muskil. Padang
kurusetra itu berpindah kekampungnya di Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan.

Masih diingat jelas hari itu. Dia menjerit dan menjerit sangat ketakutan ketika para satria itu menyumpah, memaki, mengejar, memukul, menendang sambil menghamburkan
mimis-nya.

Pekaknya rentetan senapan bagi anak berumur tiga tahun adalah petir tengara kiamat. Sementara jerit takut dan teriak ibu-ibu yang menangis bingung adalah hymne kematian yang aneh. Ya, keduanya bersepakat merobek atmosfir panas siang itu menjadi warna darah.

Choirul juga masih ingat ketika tiba-tiba dadanya dirasa merebak panas. Panas yang belum pernah dirasainya. Benar, dada kecil itu dalam sekejap penuh oleh serpihan timah yang menyembur dari laras SS1 para satria laut itu. Timah itu menembus kejam melintas di dadanya, kemudian menelusup kedalam dan menyerempet paru-paru kiri serta bersarang disana. (lihat berita)

Tak pernah dimengerti mengapa timah keji itu memilih bersarang didadanya. Benar-benar dia tak mengerti, setidak mengerti mengapa kampungnya tiba-tiba diserbu tentara? Ah, Choirul mungkin juga tak bisa ingat ketika Mistin ibunya, rebah berkalang tanah dengan dada pecah.


Mistin


Tentu kita masih bisa membayangkan Mistin ditengah suasana kalut itu. Ada letusan senapan, ada jerit bingung para ibu, dan tangis anak-anak yang ketakutan semua melebur di siang itu.
Dalam suasana mencekam Mistin dibimbing nalurinya, naluri sebagai seorang ibu. Choirul digendongnya erat, di dekapkan lekat di dada. Sementara itu dia menyiapkan tubuhnya menyongsong lesat-pesat peluru itu.
Ya, Mistin memang menyediakan dirinya sebagai pelambat laju peluru tentara. Perbuatannya tak pernah sia-sia. Walau memang Mistin mati seketika. Tetapi buah hatinya Choirul, selamat.


Benar, Mistin hanyalah seorang ibu. Seperti ibu-ibu yang lain, dia akan sangat-sangat rela menukar jiwa untuk anaknya. Karena yang dilakukan Mistin bukanlah sebuah hal yang mewah bagi seorang ibu. Yakinlah, sekarang Mistin sedang tersenyum disana, senyum indah yang akan selalu di kenang dan menemani perjalanan manusia bernama Choirul Anwar kelak.


Ah, bahkan dalam membunuhpun mereka sangat berhemat. Satu peluru untuk dua sasaran.

Khotidjah

"Eman mak nek pohung iki gak diolah (sayang bu, bila singkong ini tidak dimasak)" mungkin itulah celetukan terakhir Dewi Khodijah kepada ibunya Selasa petang (29/5). Dua puluh empat jam kemudian parutan singkong itu masih teronggok di teras mushala. Hanya yang membedakan, mushola sekarang dipagari tulisan "Dilarang Melintas Garis Polisi Militer TNI Angkatan Laut"

Paginya belum lagi dia menyelesaikan parutan singkong itu, Khotidjah terkapar berdarah di depan pintu dapur dengan kepala pecah. Sebutir peluru senapan serbu melabrak pintu dapur. Tentu saja tembus. Belum cukup membuat kerusakam pada pintu, peluru itu menerjang kepala Khotidjah. Tembus dan merobek kepala kanannya. Khotodjah mati seketika. Yang lebih membuat
giris, dia membawa pergi janinnya yang baru berumur 4 bulan.

Betul peluru tak pernah bermata. Tetapi salah apa Dewi hingga pemilik peluru itu menghamburkan padanya. Kurang baik apa Dewi pada mereka ? Teh, kopi dan camilan yang disajikannya adalah bentuk "cinta dan bakti" pada mereka. Dewi jugalah yang menggelarkan karpet di mushala ketika mereka ingin hendak berdoa. Bahkan, parutan singkong itu sedianya hendak disuguhkan mereka.

Inilah potret tentara kita. Tentara yang ditakuti bukan disegani, tentara yang bahkan semua perlengkapan mereka kitalah yang membiayai. Termasuk peluru-peluru yang kemudian bersarang di tubuh
Choirul Anwar-Choirul Anwar, Mistin-Mistin, Khotidjah-Khotidjah yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Ya, peluru-peluru itu dari rakyat untuk rakyat.

Acungkan tinju kita satu padu
- bersatu bulat semangat kita
ayo terus maju...
...

Tuesday, June 5, 2007

Alarm Peringatan Dini Tsunami.

Saat menulis ini aku masih menggunakan seragam kantor. Ini bukannya karena aku sedang istirahat makan siang atau lagi ingin bolos kerja (hi...ketauan suka bolos), tapi karena tiba-tiba orang seisi kantorku pada pulang dengan tergesa-gesa. Adanya isu tsunami membuat mereka yang bertempat tinggal di daerah pesisir laut langsung teringat dan khawatir kepada anggota keluarga yang di tinggalkanya.
Aku bukannya mau ikut-ikutan panik. Tapi lumayan, ada alasan buat pulang sekalian melihat informasi yang benarnya. Ternyata setelah diselidiki hanya air pasang bila purnama saja. Sebenarnya masyarakat biasanya sudah mengerti akan hal itu. Tapi yang bikin mereka panik adalah bertepatan dengan air pasang purnama itu, Alarm Peringatan Dini Tsunami di daerah Kahju (daerah pesisir pantai yang pora-poranda di hantam tsunami 26 Desember 2005) berbunyi.
Wah, kalau aku juga mendengar itu pastinya aku juga lari pontang-panting seperti mereka. Masih terngiang jelas diingatanku dan juga masyarakat Aceh tentang kedahsyatan Tsunami. Dan ternyata setelah alarm itu berbunyi dan masyarakat panik serta mungkin telah memakan korban (akibat kecelakaan lalu lintas), tak lama kemudian mobil penerangan memberitahukan bahwa ada konslet pada Alarm Peringatan Dini Tsunami tersebut dan masyarakat diharap tenang. Padahal kalau kalian berada dijalan raya tersebut, kalian akan lihat wajah-wajah ketakutan, ada yang sampai menangis dan histeris. Ah...Tsunami, kau begitu membekas dihati kami masyarakat Aceh.
Alhamdulillah...Syukurlah, walau agak sedikit gondok dengan konslet tersebut, yang penting tsunami itu tidak datang lagi. Tapi kami masyarakat Aceh sudah belajar dari pengalaman tentang bagaimana tsunami itu datang. Bagai mana harus bertindak dan sigap. Semoga masyarakat tidak kapok dengan kejadian ini, sehingga saat alarm itu benar-benar berteriak menyatakan akan ada tsunami, masyarakat malah santai saja menanggapinya (karena dikira Alarmnya konslet lagi). Baik teman, aku balik kantor lagi niy. Aku akan memberitahukan informasi Aceh terkini pada kalian semua. Selamat aktifitas.

Friday, May 25, 2007

Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng

Tahu tarian Saman? Seudati? Iya benar. Itu adalah tarian khas Aceh yang sudah sangat terkenal di nusantara bahkan di dunia. Kali ini saya bukan sedang ingin membahas tentang Tari Saman atau Seudati yang sudah termasyur itu. Tapi saya ingin bercerita kepada semua tentang tari Rapai Geleng (adiknya tari Saman dan Seudati). Tari Rapai Geleng adalah seni tari berupa gerakan badan dipadukan dengan suara dan gerakan tangan,kepala dan anggota tubuh lainnya, dibawakan oleh 16 orang penari laki-laki dan 1 orang syekh. Rapai hampir sama dengan beduk akan tetapi bentuknya kecil dan sanggup diangkat dengan sebelah tangan persis sama dengan rebana akan tetapi dia agak sedikit tebal dan suaranya sangat besar. Saya tidak membahas tentang bagaimana tarian itu dibawakan atau diperagakan, tetapi saya ingin mmbahasa filosofi yang terdapat dalam tarian tersebut.

Teman saya menyebutnya : Pesan Perlawanan dalam Tarian Aceh; Rapai Geleng

Alhamdulilah Pujo Keu Tuhan. Nyang Peujeut Alam Langet Ngon Donya. Teuma Seulaweut Ateuh Janjongan. Panghulee Alam Rasul Ambiya

(Segala Puji kepada Tuhan. Yang telah menciptakan langit dan dunia. Selawat dan salam pada junjungan. Penghulu alam Rasul Ambiya)

Nanggroe Aceh nyo Tempat loun lahee. Bak Ujoung Pantee Pulo Sumatra. Dilee Baroo. Kon Lam jaro Kaphe. Jino Hana Lee Aman Sentosa

(Daerah Aceh ini Tempat lahirku. Di ujung pantai pulau Sumatera. Dulu berada di tangan penjajah. Kini telah aman dan sentosa)

Sederet syair yang dilantunkan kolosal sebelasan pria berkostum hitam kuning berpadu manik-manik merah, serempak menggeprak panggung dengan duduk bersimpuh menabuh rapa-i (rebana khas Aceh terbuat dari kulit kambing betina) dengan ritme teratur. Tiba-tiba, tetabuhan yang tadinya berirama satu-satu, lambat, berubah cepat di iringi dengan gerak tubuh yang masih berposisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan. Itu tak cukup, gerakan cepat kian lama kian bertambah cepat. Bunyi tetabuhan rapa-i begitu dahsyat menghantam sesuatu paling dalam di jiwa, menggeser kepongahan, menghadirkan ketakjuban. Tak lama, dalam satu hentakan, seluruh gerak dan bunyi tadi tiba-tiba lenyap, hening, dan diam. Ada getar magis sesaat tetabuhan dan seluruh gerak sebelasan pria muda tadi berganti hening dan diam. Setidaknya itu kesan sepintas saat menyaksikan langsung pagelaran tarian Rapa-i geleng –tari tradisional Aceh-, kapanpun dan dimanapun. Namun sesungguhnya ada getar lain yang maha dahsyat ketika kita memahami seluruh ritme gerak tarian negeri seribu konflik itu. Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian rapa-i geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan Agama, politik, sosial dan budaya mereka. Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian rapa-i geleng tersebut coba memberi pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Maaf dan permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian;

Meu nyo ka hana raseuki, yang bak bibi roh u lua. Bek susah sare bek sedeh hatee, tapie kee laen ta mita.

(Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar jangan lah susah, jangalah bersedih hati, mari kita pikirkan yang lain untuk di cari)

Kata “raseuki” yang bermakna “rezeki” dalam syair di atas, merupakan simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan perbuatan baik kepada mereka dimaknakan sebagai sebuah keberuntungan. makna sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan jahat, maka masyarakat Aceh mengartikan ketakberuntungan nasib mereka, dan ketakberuntungan itu merupakan permaafan. Gerakan beritme Cepat adalah gerak kedua, sesaat pesan yang terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan penyikapan ketika perbuatan jahat, yang dimaknakan sebagai ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi masih sebatas protes keras belaka. Seperti bunyi syair di bawah;

Hai Laot sa, ilak ombak meu Aloun kapai die eik troun meu lumba Lumba hai bacut teuk, salah bukon sa Lah loun salah mu, lah poun awai bak gata

(Wahai Laut yang berombak mengayunkan kapal naik dan turun sedikit lagi kemasukan air, itu bukan salah ku, engkaulah yang mengawalinya)

Gerakan beritme cepat ini tak lama. Segera disusul dengan gerakan tari beritme sangat cepat mengisyaratkan chaos menjadi pilihan dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Sebuah perlawanan disaat protes keras tak diambil peduli. Tetabuhan rapa-i pada gerakan beritme sangat cepat inipun seakan menjadi tetabuhan perang yang menghentak, menghantam seluruh nadi, membungkus syair menjadi pesan yang mewajibkan perlawanan dalam bentuk apapun ketika harkat dan martabat bangsa terinjak-injak. Cuplikan sajak “perang” nya “maskirbi” yang biasa dilantunkan menjadi syair dalam gerakan beritme cepat pada tarian rapa-i geleng ini bisa menjadi contoh sederetan syair-syair yang dijadikan pesan.

Doda idi hai doda idang. Geulayang balang ka putoh talo. Beureujang rayeuk banta siding. Jak tulong prang musoh nanggro

(doda idi hai doda idang –nyanyian nina bobo untuk anak- layangan sawah telah putus talinya cepatlah besar wahai ananda pergilah, perangi musuh negeri)

Pada titiknya, tiba-tiba semua gerakan tadi berhenti seketika, termasuk seluruh nyanyian syair sarat makna. Semua menjadi bisu, hening dan diam. Ini merupakan gerakan akhir dari tarian. Gerakan diam merupakan gerakan yang melambangkan ketegasan, habisnya semua proses interaksi. Bagi orang Aceh, gerak diam adalah gerak perlawanan abadi, di sana tak adalagi musuh, di sana tak adalagi teman. (sumber: Mandis-M Andi Sabri Kasturi-Arie)

Sebegitu kuatnya makna yang terkandung dalam tarian aceh ini. Namun sayang. Ketika tari tradisional Aceh diperkembangkan lebih jauh, banyak pakem dasar yang dilupakan atau ditinggalkan oleh para koregrafernya. Tari tradisi Aceh pun berubah menjadi tari kreasi baru, dengan pulasan keacehan ala kadarnya. Hanya demi “kepentingan” dan ambisi palsu koreografer tanpa terlebih dahulu mengetahui latar belakang atau filosofi yang terkandung di dalamnya. Para koreografer hanya berpatokan pada grafik ritmis setiap tari Aceh -- lambat, sedang, dan cepat -- yang sering mereka katakan “ruh” tari Aceh. Gerak dinamis khas tari Aceh jadi “terbongkar”.

Wednesday, May 23, 2007

H u R u F

Setelah beberapa saat disibukkan dengan cinta dan lalu aku menuangkannya dalam sebuah posting. Kini perhatianku tertuju pada “huruf”. Setelah membaca kembali tulisan-tulisanku diblog ini, terlihat sangat amburadul dan begitu jorok. Jorok dari segi teknik menulis. Mulai dari tanda baca, huruf, spell dll.
Aku teringat pada kata-kata temanku tentang apa itu menulis.Bintang Matahari (5/18/2007 2:28:54 AM): sebagai sebuah huruf yang dirangkai menjadi kata dan membentuk kalimat, itu sangat bermakna, dalam, dan menyentuh...

Tapi kata-kata berikutnya membuatku menjadi tersadar apa arti menulis itu sendiri. Menulis bukan hanya sekedar merangkai huruf-huruf yang kemudian tersusun menjadi kata dan kemudian membentuk kalimat, baik bermakna atau tidak sama sekali. Tetapi pada apakah tulisan-tulisan itu telah teraplikasi dalam kehidupan kita.

Kamu pasti kenalkan Khalil Gibran? dalam Sayap-sayap patah, The Prophet, Si Gila, dll. Khusus dalam Sayap-sayap Patah rangkaian katanya dahsyattttt…sangat dahsyatttttttttt dan mungkin tak tertandingi. Tapi masalahanya kupikir, that's just a word, nggak lebih. Kenapa? bahkan sampai ketika dia mati pun, dia selalu gagal dalam urusan cinta. Tidak seperti apa yang di tulisnya. So kupikir ini bukan berhenti semata-mata pada keahlian teknis menulis. Tetapi bagaimana tulisan tersebut adalah pandangan, ide bahkan kalau perlu itulah sikap hidup. Jangan dipisah, bahwa tulisan itu haruslah di jiwai dengan apa yang terjadi dan menjadikannya...dengan kata lain, jangan hanya berhenti pada titik menulis atau berpikir saja, but...buatlah kaki untuk tulisanmu. Biar dia bisa benar-benar melangkah dibumi dengan segala macam carut marutnya ini.

Begitu kata temanku suatu hari, saat itu aku merasa kesulitan dalam merangkai huruf menjadi kata, kemudian menjadi kalimat dan membentuk sebuah tulisan. Ya…dan aku sepakat untuk ini. Tulisan menurutku juga jangan hanya berhenti pada teknis menulis atau pemikiran saja. Tapi juga harus diusahakan menjejak dibumi alias aplikatif.

Dan yang bikin aku nyengir saat dia mengatakan untuk sebelum mengedit contents dari tulisanku sebaiknya aku mengedit dahulu tulisanku dengan hal-hal teknis, karena tulisan sebagus apapun, kalau nulisnya jorok akan kehilangan keindahnya. hi… dan kali inipun aku sepakat dengannya. Memang aku akui kalau teknik menulisku masih buruk. Tapi terus dalam tahap perbaikan. Terus belajar. Dan tak hanya itu, aku juga ingin dia tidak hanya menjadi makhluk mati. Kupikir tulisan juga mahkluk organis yang tumbuh dan bisa menjadi dewasa.

Saat menulis ini, aku menemukan salah satu puisi karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul sama dengan judul post ini. Berikut kutulis ulang buat yang membaca post ini sebagai penutup dari tulisanku ini.

HURUF

Wahai huruf,
Bertahun kupelajari engkau,
Kucari faedah dan artimu,
Kudekati kau saban hari,
Saban aku jaga,
Kutatap dikau dengan pengharapan,
Pengharapan yang tidak jauh
Dari hendak ingin dapat dan tahu.

Tetapi; kecewa hatiku.
Kupergunakan kamu
Menjadi senjata dialam kanan,
Agaknya belum juga berfaedah
Seperti yang kuhendakkan.
Selalu dikau kususun rapi
Di atas kertas pengharapan yang maha tinggi,

Tetapi …
Bilalah aku diliputi asap kemenyan sari,
Tak kuasa aku menyusun kamu
Hingga susunan itu dapat dirasakan pula
Oleh segenap dunia
Sebagai yang kurasa pada waktu itu.

Alangkah akan tinggi ucapan
Terima kasihku, bilalah kamu
Menjadi bukuterbuka,
Bagi manusia yang membacanya.

Kalaulah aku direndam lautan api,
Hendaklah kamu merendam pembacamu,
Bilalah aku disendu pilu,
Hendaklah kamu merana dalam hatinya.

Huruf, huruf….
Apalah nian sebabnya maka kamu
Belum tahu akan maksudku?

Pramoedya Ananta Toer
Sadar No.5 th. II,
10 januari 1947