Tuesday, April 10, 2007

Sekilas Info dari Nanggroe

HIMBAUAN MAHASISWA UNSYIAH UNTUK RAKYAT ACEH
“RAKYAT ACEH MAKIN MISKIN, PEJABAT BRR MAKIN KAYA”


Gaji yang cukup besar para pejabat Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD- Nias membuat deru derita baru rakyat Aceh. Kepala Bapel BRR menerima gaji 60 juta lebih perbulan dikali dengan 4 tahun maka seorang pejabat BRR menerima gaji 2,880 milyar lebih, ditambah lagi belanja aparatur lainnya.

Bahkan pejabat BRR yang duduk di Dewan Pengawas dan Dewan Pengarah bergaji besar tersebut tidak pernah pergi ke Aceh untuk mengarahkan kerja BRR, tapi mereka juga mendapatkan gaji puluhan juta rupiah. Yang lebih ironis lagi adalah Dewan Pengawas dan Dewan Pengarah BRR sudah menjadi Almarhum tapi mereka masih mendapatkan gaji besar dari BRR dengan alasan belum ada Kepres baru dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mungkinkah mayat mengambil gaji di BRR?

Kegemukan stuktur di BRR juga sangat menguras dana rekonstruksi. Disatu sisi ada Dewan pengawas di sisi lain ada Deputi pengawas yang mempunyai tugas yang sama yakni untuk mengawasi Bapel BRR NAD-Nias.

Mungkinkah sejarah Petro Dolar Aceh kembali terulang? Daerah yang dulu pernah berjaya kemudian hanya membuat kaya segelintir orang dan rakyat Aceh kembali hidup dibawah garis kemiskinan. BRR yang saat ini memiliki dana cukup besar dapat membuat masyarakat Aceh sejahtera atau memperkaya beberapa orang saja???

Sangat disalutkan sederetan aktivis, Akademisi, Politikus, militer, wakil rakyat serta tokoh-tokoh Aceh yang sudah terlibat didalam sistem rekon Aceh di BRR ternyata DIAM tak berbicara, mungkinkah mereka sudah mendapat apa yang mereka inginkan? Sehingga mereka melupakan apa yang menjadi harapan rakyat AcehMari kita doakan saudara-saudara kita yang berada di BRR yang sudah kenyang dengan surga BRR, sehingga Allah memberikan hidayah kembali bagi mereka untuk berada di jalan yang benar

”MAU HIDUP NYANTAI TAPI BANYAK UANG…
KERJA DI BRR, GAJI PASTI BANYAK”
TANYA KENAPA???
BECAUSE WHY, KARENA BRR NGGAK TAHU DIRI
THAT’S RIGHT BROTHER

Itulah tulisan selembaran yang ku dapatkan sewaktu aku melintasi Simpang Lima kota Banda Aceh untuk menuju warnet. Pada bundaran tersebut berkumpul mahasiswa dan mahasiswi berjas almamater Unsyiah Aceh. Mereka mengusung beberapa spanduk dan tulisan di karton sambil membagi-bagikan selebaran. Ada juga sesosok mayat yang tidur di pinggir trotoar dengan sebuah tulisan disebelahnya “Apakah Mayat Bisa Mengambil Gaji di BRR?”.

Ada juga kulihat beberapa orang petugas kepolisian berjaga-jaga disana. Demontrasi kecil-kecilan dari mahasiswa pikirku. Dan biasanya hanya jadi angina lalu saja. Aceh akan tetap begini pikir ku. Kemakmurannya hanya jadi milik segelintir orang, bahkan mereka yang menikmatinya bukan anak Nanggroe ini. Tapi kini pemerintahan di Aceh telah berganti. Besar harapan ku Aceh bisa makmur dan sejahtera dan berjaya kembali.

MALPRAKTEK MEDIK

Akhir-akhir ini tuntutan hukum terhadap dokter dengan dakwaan melakukan malpraktek makin meningkat dimana-mana, termasuk di negara kita. Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih menyadari akan haknya. Disisi lain para dokter dituntut untuk melaksanakan kewajiban dan tugas profesinya dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Seorang dokter hendaknya dapat menegakkan diagnosis dengan benar sesuai dengan prosedur, memberikan terapi dan melakukan tindakan medik sesuai standar pelayanan medik, dan tindakan itu memang wajar dan diperlukan.

Di Negara-negara maju tiga besar dokter spesialis menjadi sasaran utama tuntutan ketidaklayakan dalam praktek, yaitu spesialis bedah (ortopedi, plastic dan syaraf), spesialis anestesi dan spesialis kebidanan & penyakit kandungan.

Malpraktek medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim di pergunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama. Yang dimaksud dengan kelalaian disini adalah sikap kekurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan tindakan kedokteran dibawah standar pelayanan medik.

Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum “De minimis noncurat lex,” yang berarti hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini diklasifikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminil.

Tolak ukur culpa lata adalah:

1. Bertentangan dengan hukum

2. Akibatnya dapat dibayangkan

3. Akibatnya dapat dihindarkan

4. Perbuatannya dapat dipersalahkan

Jadi malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran di bawah standar.

Malpraktek medik murni (criminal malpractice) sebenarnya tidak banyak dijumpai. Misalnya melakukan pembedahan dengan niat membunuh pasiennya atau adanya dokter yang sengaja melakukan pembedahan pada pasiennya tanpa indikasi medik, (appendektomi, histerektomi dan sebagainya), yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, jadi semata-mata untuk mengeruk keuntungan pribadi. Memang dalam masyarakat yang menjadi materialistis, hedonistis dan konsumtif, dimana kalangan dokter turut terimbas, malpraktek diatas dapat meluas.

Pasien/keluarga menaruh kepercayaan kepada dokter, karena:

- Dokter mempunyai ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menyembuhkan penyakit atau setidak-tidaknya meringankan penderitaan.
- Dokter akan bertindak dengan hati-hati dan teliti
- Dokter akan bertindak berdasarkan standar profesinya.


Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:
- Dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum dikalangan profesi kedokteran
- Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar profesi (tidak lege artis)
- Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak hati-hati
- Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum

Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran, maka ia hanya telah melakukan malpraktek etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian kerena kelalaian, maka penggugatan harus dapat membuktikan adanya 4 unsur berikut:

- Adanya suatu kewajiban bagi dokter terhadap pasien
- Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipergunakan
- Penggugat telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya
- Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar

Kadang-kadang penggugat tidak perlu membuktikan adanya kelalaian yang tergugat. Dalam hukum terdapat suatu kaedah yang berbunyi “Res Ipsa Loquitur”, yang berarti faktanya telah berbicara, misalnya terdapatnya kain kasa yang tertinggal di rongga perut pasien, sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam hal ini maka dokter lah yang harus membuktikan tidak adanya kelalaian pada dirinya.

Kelalaian dalam arti perdata berbeda dengan arti pidana. Dalam arti pidana (kriminil), kelalaian menunjukkan kepada adanya suatu sikap yang sifatnya lebih serius, yaitu sikap yang sangat sembarangan atau sikap sangat tidak hati-hati terhadap kemungkinan timbulnya resiko yang bisa menyebabkan orang lain terluka atau mati, sehingga harus bertanggung jawab terhadap tuntutan kriminal oleh Negara.

Contoh Kasus
1. Seorang dokter memberi cuti sakit berulang-ulang kepada seorang tahanan, padahal orang tersebut mampu menghadiri sidang pengadilan perkaranya. Dalam hal ini dokter terkena pelanggaran Kode Etik Kedokteran (KODEKI) Bab-I pasal 7 dan KUHP pasal 267.
KODEKI Bab I pasal 7
Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya.
KUHP pasal 267Dokter yang dengan sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang adanya atau tidak adanya penyakit, kelemahan atau cacat, dihukum dengan hukuman penjara selama 4 tahun.

2. seorang penderita gawat darurat dirawat di suatu rumah sakit dan ternyata memerlukan pembedahan segera. Ternyata pembedahan tertunda-tunda, sehingga penderita meninggal dunia. Pelanggaran etik dan hukum kasus ini ada 2 kemungkinan:

a. jika tertundanya penbedahan tersebut disebabkan kelalaian dokter, maka sikap dokter tersebut bertentangan dengan lafal sumpah dokter, KODEKI Bab II pasal 10 dan KUHP pasal 304 dan 306
Lafal sumpah dokter:

Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita.
KODEKI Bab II pasal 10

Seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan.KUHP pasal 304
Barang siapa yang dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan seseorang dalam kesengsaraan, sedangkan ia wajib memberi kehidupan, perawatan dan pemeliharaan berdasarkan hukum yang berlaku baginya atau karena suatu perjanjian, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,-KUHP pasal 306(2) jika salah satu perbuatan tersebut berakibat kematian, maka bersalah dihukum dengan hukuman perjara selama-lamanya 9 tahun.

b. jika tertundanya pembedahan tersebut disebabkan keluarga penderita belum membayar uang panjar untuk rumah sakit, maka rumah sakitlah yang terkena pasal-pasal KUHP 304 dan 306, sedang dokter terkena pelanggaran KODEKI.

Jadi walaupun kesadaran hukum meningkat akhir-akhir ini, namun untuk menegakkan hukum itu di tengah-tengah masyarakat, masih menghadapi hambatan-hambatan. Hambatan lain tentunnya, bahwa unsur-unsur penegak hukum kadang kala belum siap menangani kasus-kasus yang diajukan, karena terbatasnya pengetahuan dalam bidang medik dan belum adanya perundang-undangan dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kasus-kasus yang diajukan.

Walaupun dalam KODEKI telah tercantum tindakan-tindakan yang selayaknya tidak dilakukan oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya, akan tetapi sanksi bila terjadi pelanggaran etik tidak dapat diterapkan dengan seksama.

Dalam etik sebenarnya tidak ada batas-batas yang jelas antara boleh atau tidak, oleh karena itu kadang kala sulit memberikan sanksi-sanksinya.

Di negara-negara maju terdapat Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas melakukan pembinaan etika profesi dan menanggulangi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan terhadap etik kedokteran.

Di Negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun demikian, MKEK ini belum lagi dimanfaatkan dengan baik oleh para dokter maupun masyarakat.

Masih banyak kasus yang keburu diajukan ke pengadilan sebelum ditangani oleh MKEK. Oleh karena fungsi MKEK ini belum memuaskan, maka pada tahun 1982 Departeman Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran (P3EK) yang terdapat pula di pusat dan di tingkat propinsi.

Tugas P3EK ialah menangani kasus-kasus malpraktek etik yang tidak dapat ditanggulangi oleh MKEK, dan memberi pertimbangan serta usul-usul kepada pejabat berwenang.Jadi instansi pertama yang akan menangani kasus-kasus malpraktek etik ialah MKEK cabang atau wilayah. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK Propinsi dan jika P3EK Propinsi tidak mampu menanganinya maka kasus tersebut diteruskan ke P3EK Pusat.

Begitu juga kasus-kasus malpraktek etik yang dilaporkan kepada propinsi, diharapkan dapat diteruskan lebih dahulu ke MKEK Cabang atau Wilayah. Dengan demikian diharapkan bahwa semua kasus pelanggaran etik dapat diselesaikan secara tuntas.

Tentulah jika sesuatu pelanggaran merupakan malpraktek hukum pidana atau perdata, maka kasusnya diteruskan kepada pengadilan. Dalam hal ini perlu dicegah bahwa oleh karena kurangnya pengetahuan pihak penegak hukum tentang ilmu dan teknologi kedokteran menyebabkan dokter yang ditindak menerima hukuman yang dianggap tidak adil.

[ dikutip dari buku Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan: M Yusuf Hanafiah]

Monday, April 9, 2007

Kisah Perjalanan Tangse

Saat-saat keberangkatan
Pukul 09.20 (waktu menurut jam tanganku), mobil Mitsubisi L-300 dengan nomor polisi BL 1308 PB tiba dirumahku. Itu adalah mobil penumpang yang akan membawaku menuju Tangse. Kulihat Mila langsung keluar dari dalam mobil dan menyuruhku masuk kedalam mobil.

"Maaf lama, sopirnya jemput penumpang lain dulu, mana mutar-mutar jalannya.” bisik Mila, merasa tidak enak denganku. Bayangkan saja telat 1 jam 20 menit dari jadwal. Ditambah lagi kursi yang seharusnya di isi dengan 3 orang kali ini harus diisi 4 orang. Jadi kebayangkan sempitnya didalam sana.

Untung yang duduk dideretanku orangnya kecil-kecil. Lalu mobil itu melaju lagi. Kukira kali ini langsung berangkat, tidak tahunya menjemput seorang penumpang lagi. Padahal udah padat banget. Kalau dijumlah dari kursi supir ada 3 orang perempuan dewasa ditambah sopir, lalu baris kedua ada aku, Mila, dan sepasang suami istri dan kedua anaknya, baris ketiga ada 4 orang dewasa dan seorang anak kecil dan dibaris keempat (paling belakang) ada 2 orang laki-laki dewasa, jadi keseluruhan adalah 14 orang dewasa dan 3 anak-anak. Padahal standarnya 11 orang dewasa. Untungnya semua jadi tidak terasa karena sepanjang jalan aku dan Mila asyik ngobrol, maklum udah lama tidak jumpa.

***
Hari-hari di Tangse
Pukul 13.20 (masih waktu menurut jam tanganku). Aku tiba dirumah Aziziah (tempat aku nginap). Di desa bernama Krueng Dhot (desa di kecamatan Tangse Kabupaten Aceh Pidie). Kami disambut ramah Azizah dan keluarganya. Setelah salaman dan cipika cipiki (cium pipi kanan- cium pipi kiri) kami langsung disuruh makan.

Bersama keluarga Azizah Dari kiri, mamak, Rizki (adik angkat Azizah), Azizah, aku, Mila, Mansur (adik Azizah), Chairunnisa (adik Azizah)

Setelah sholat, aku dan Mila memutuskan untuk jalan-jalan ke sungai, karena dirumah masih ada kenduri (untuk ayahnya yang sudah almarhum) dan tamu masih berdatangan maka Azizah tidak bisa ikut menemani. Setelah melewati jalan setapak yang menurun, sungai sudah kelihatan. Aku langsung turun. Kulihat ada sepasang sandal tergeletak disitu dan mulai mencari pemiliknya tapi sial, haiks…ternyata ada yang lagi buang hajat (full view) duh malunya. Wah belum apa-apa aku udah sial. Mila langsung cekikikan liat aku yang yang salah tingkah.

Sekarang aku lebih hati-hati kalo mau turun ke sungai liat dulu apakah ada pengunjung lain atau tidak (kebiasaan orang kampung, buang hajat di sungai). Cuaca saat itu mendung, hujan rintik-rintik, tapi kita nekad untuk turun ke sungai. Tidak begitu dalam airnya sehingga kali ini aku memutuskan untuk menyusuri sungai bukan dari tepiannya tapi langsung ditengah-tengah sungai. Asyik, tapi harus hati-hati karena batunya licin. Sempat foto anak-anak lagi mandi juga. Lalu setelah asyik disungai, Mila mengajak untuk mampir ke rumah Cut Bit (panggilan untuk adik mamaknya Azizah). Aku nurut saja. Soalnya aku kan belum pernah kesini. Kalau Mila sudah beberapa kali.

1. Sungai yang berada di belakang rumah Azizah, 2. Anak-anak sekitar yang mandi dan bermain di sungai, 3. Bersama Mila (seneng banget bisa ke Tangse sama-sama)

Sesampainya di rumah Cut Bit kami disuguhi teh dan durian plus lemang (pasangan kalo makan durian) kesukaan Mila, aku tidak ikut makan karena tidak suka durian. Cut Bit orang yang ramah, sepanjang obrolan tertawa terus, aku juga ikut tertawa. Tapi tidak sepatah katapun keluar dari bibirku. Soalnya aku tidak begitu bisa bahasa Aceh. Tapi aku mengerti sebagian besar yang dikatakannya.

Pukul 15.50 (waktu menurut jam tanganku), sepertinya kami harus kembali ke rumah Azizah. Maka kamipun pamit untuk pulang sama Cut Bit. Saat diluar sebagai tamu yang baik aku mesti menggucapkan kata-kata perpisahan. Maka sambil memegang kepala cucu Cut Bit yang kecil aku bilang, “Pulang dulu ya, nanti kami mampir lagi kesini,” serta merta seluruh yang ada disitu jadi diam semua. Seperti ada malaikat lewat. Lalu aku segera sadar kalo mereka tidak mengerti apa yang aku ucapkan (parah banget mereka, sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia. Kalau keluarga Azizah semua mengerti bahasa Indonesia). Kontan aku tertawa dan mereka juga ikut tertawa. Lalu penerjemahku (Mila) langsung mengambil alih menjelaskan kepada mereka. Hahahaha...

Mila bersama keluarga Cut Bit (jilbab hijau), kelihatan kan kalau mereka lebih suka pakai kain sarung

Saat maghrib tiba, kami shalat berjamaah. Mamak Azizah bertindak sebagai imam untuk anak-anak cewek. Setelah itu rencananya kita akan mengikuti acara “Dakwah”(ceramah menyambut Maulid) di Meunasah (mushala). Tapi diluar hujan deras banget jadi kayaknya batal untuk ikut menghadiri dakwah. Jadi setelah shalat maghrib aku tidur saja (dingin banget di Tangse, bawaan lapar dan ngantuk). Jangan salah kalo cuma 2 hari di tangse aku udah kelihatan gemuk.
Sekitar jam 21.50 hujan reda, dan kami memutuskan untuk datang ke acara dakwah di Meunasah. Sesampai disana acara dakwah sudah dimulai. Tengku (panggilan untuk ustadz di Aceh) sedang menceritakan sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Aceh. Aku antara tahu dan tidak tetap mendengarkan, dan sekali-sekali coba jepret sana, jepret sini. Tapi hasilnya kurang bagus karena cahaya yang minim banget.

Mengenai Teknologi dan Transportasi

Paling tidak Tangse bukan daerah yang tertinggal banget. Ada listrik, PDAM, jaringan Telp, bahkan dibeberapa rumah ada parabola. Mengenai jaringan untuk HP memang ada, tapi buruk banget.
Selama aku disana baru sewaktu aku akan pulang ada sinyal. Itupun sebatas jaringan dari Telkomsel. Yang bisa kukatakan kalau disana hampir setiap rumah memiliki motor. Orang Aceh mengatakan motor kereta atau Honda (ini bukan menyatakan brand tertentu, tapi Honda itu jadi identik dengan motor untuk orang Aceh. Walaupun kita naik motor dengan merk yang lain tetap dikatakan Honda), dan untuk mobil disebut motor. Jadi jangan heran kalau kamu ke Aceh terus nanya mau kewarung saja mereka naik kereta, itu bukan kereta seperti umumnya yaitu kereta api, tapi kereta yang dimaksud itu motor. Dan saat dikatakan naik motor, yang kamu lihat mereka membawa mobil. Jembatan penghubung di Tangse rata-rata adalah jenis jembatan gantung.

Karena Tangse dikelilingi sungai, dan jembatan gantung banyak digunakan disana. Jalan di tangse sudah beraspal, khususnya jalan Negara. Hanya saja kadang longsong membuat kita akan sulit untuk melewati jalan-jalan itu. Apalagi bila sehabis hujan, harus hati-hati banget.

Sarana MCK

Nah yang bikin aku gak nyaman disana adalah sarana MCK. Kamar mandinya minimalis banget. Dinding kayu yang tidak rapat, antara kayu yang satu dengan yang lain terdapat celah-celah, jadi kalau mau mandi kita harus pakai basahan (kain sarung, karena takut diintip). Terus WC juga begitu. Dan masih banyak rumah-rumah yang tidak memiliki WC sendiri, sehingga sungai menjadi tempat untuk MCK. Kamu juga akan menemuai MCK-MCK mini (sekedar tertutup sekitar satu meter sekelilingnya) di sepanjang jalan di Tangse. Setiap ada mata air, disitu pasti ada MCK mininya. Itu ditujukan untuk pejalan yang tiba-tiba ingin buang air kecil atau whuduk.

Hasil Kebun

Disepanjang jalan yang kulalui menuju kerumah Azizah, kulihat kalau disemua rumah rata-rata memiliki pohon coklat, pinang, kopi, durian, langsat, kelapa. Tapi yang paling banyak dan rata-rata ada yaitu pohon coklat. Dan Durian Tangse sudah sangat terkenal dengan rasanya yang enak dengan daging buah yang tebal. Kalau musim durian tiba maka durian Tangse bakal banyak dicari. Bahkan orang-orang kota rela untuk datang langsung ke Tangse untuk membeli durian dari kebunnya.

Hasil Persawahan

Tangse terkenal dengan berasnya yang sangat enak. Bahkan makan nasi dengan kerupuk saja sudah sangat enak, asalkan berasnya beras Tangse. Makanya jangan heran dua hari disini sudah membuat aku gemuk, makan melulu sih. Sayur-sayurnya juga memiliki mutu yang bagus. Cabai, tomat, kol, adalah beberapa hasil persawahan di Tangse. Itu akan kamu temui sepanjang jalan di Tangse. Sawah yang sedang ditanami padi atau tanaman cepat panen seperti cabai, bawang, kok dll.

Makanan

Masakan Tangse hampir sama dengan masakan Aceh pada umumnya, pedas dan kaya akan rempah-rempah. Walaupun begitu aku masih suka masakan Banda Aceh. Hanya saja di Tangse sangat kurang jajanan. Mungkin orang disini tidak biasa untuk makan makanan kecil. Kamu tidak akan menemukan KFC, pizza, burger, bahkan bakso saja tidak tersedia disana. Selama aku disana aku cuma makan nasi, paling makan mie goreng di warung sewaktu jalan-jalan.

Kebiasaan

kebiasaan orang-orang disini sering pakai ija krung (baca: kain sarung), baik perempuan maupun laki-laki. Tidak boleh pakai baju dan celana yang ketat. Boncengan satu motor cewek-cowok yang bukan pasangan sah (sudah menikah). Kebanyakan laki-lakinya hanya sampai sekolah SMU saja. Lalu banyak menghabiskan waktu di dayah (pesantren). Cita-cita tertinggi mereka menjadi seorang Tengku (baca: ustadz), dan itu juga cita-cita orang tua mereka. Punya anak laki-laki Tengku dan kalau bisa punya menantu seorang Tengku. Seputar itu deh. Itu ku tahu saat bincang-bincang dengan adik Azizah (perbincangan yang aneh: dia ngomong dalam bahasa Aceh, aku jawab bahasa Indonesia, lalu dia balas dengan bahasa Aceh lagi, aku tetap menjawab dengan bahasa Indonesia…hihihi)

Pukul 06.15 keesokan harinya (waktu menurut jam dikamar Azizah). Aku langsung mandi dan segera untuk shalat subuh. Azizah sampai keheranan melihat aku mandi pagi-pagi sekali. Karena dingin banget airnya. Aku bela-belain mandi karena saat itu saat yang paling nyaman untuk mandi (sepi dan yang lain masih pada tidur).

Setelah bantu-bantu nyapu rumah dan cuci piring, kami merencanakan untuk pergi ke Ie Rheut (ie=air, rheut=jatuh, ie rheut=air terjun)Sepanjang perjalanan menawarkan pemandangan yang indah. Untuk menuju kesana kami harus melewati kota kecamatan Tangse (kota diatas bukit). Ie Rheut berada didesa Alue Lhok.

Kira-kira 30 menit dari desa Blang Dhot. Sesampai disana ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Hanya air terjun kecil (menurutku belum bisa dibilang air terjun), tapi pemandangan menuju ke Ie Rheut bagus banget. Lalu kami melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah. Karena rencananya siang ini aku akan kembali ke Banda Aceh.


Lagi-lagi sial, karena ternyata mobil yang berangkat ke Banda Aceh siang ini tidak ada. Padahal itu satu-satunya mobil yang menuju ke Banda Aceh siang ini. Aku dan Mila sudah mulai cemas. Karena aku harus kerja besok dan Mila juga harus kuliah. Akhirnya diputuskan untuk nanti malam menunggu mobil dari Meulaboh yang menuju Banda Aceh.

Karena tidak jadi pulang siang itu, maka sorenya aku diajak untuk pergi ke rumah salah satu Tengku untuk menjengguk istrinya yang baru saja melahirkan. Aku setuju tapi karena harus pakai rok, dan aku tidak bawa persediaan rok maka aku batal ikut mereka, tapi Mila ikut. Azizah maksa aku ikut dengan cara aku pakai ija krung (kain sarung). Ogah ah, dari pada disuruh pergi pakai kain sarung mending aku tidur dirumah.

Sehabis magrib aku bersiap-siap untuk berangkat pulang. Tapi diluar hujan deras sekali. Lalu abang Azizah menyarankan untuk pulang besok pagi saja. Karena takut ada longsor. Dan kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa, habis sudah usahaku untuk dapat masuk kantor esok. Dan aku pasrah. Dan untuk besok abang Azizah sudah menbooking tempat untuk mobil yang kami tumpangi (biasa…di dekat pintu di baris kedua).

***
Come home
Sebeeeeeelllll...Mual…Alhamdulillah. Itu tiga kata yang mewakili saat aku berangkat dari Tangse menuju Banda Aceh.
Sebel karena aku tidak dapat tempat duduk yang sesuai dengan pesananku. Mana aku dan Mila duduk terpisah lagi. Aku duduk di baris ketiga dan diapit oleh seorang nenek dan seorang ibu yang gemuk sedangkan Mila tidak kalah sialnya duduk di baris pertama sama supir. Dia diapit oleh wanita gemuk. Ah mana dia kurang enak badan tadi.
Mual karena sepanjang aku dari Tangse sampai Banda Aceh, bau durian memenuhi mobil. Mana jalannya berbelok-belok lagi (jalan khas Tangse). Huek…huek…hampir saja aku muntah. Tapi aku tahan, kepalaku pusing bukan kepalang. Duh durian, engkau makin membuatku semakin tidak suka padamu. Aku memang tidak suka sama durian, baunya itu loh bikin pusing. Tapi mau gimana lagi, soalnya duriannya bukan punya siapa-siapa sih, itu durian kepunyaan Mila (doyan banget tuh anak sama durian). Jadi ya sabar aja. Tapi aku tau kalau dia agak rasa bersalah melihat aku yang merengut sepanjang perjalanan gara-gara bau durian.
Alhamdulillah…itu yang ku ucapkan ketika sampai di rumah. Akhirnya tiba juga dirumah dengan selamat. Dan langsung menelpon kantor untuk memberi kabar pada bos kalo aku baru saja sampai dari Tangse. Alhamdulillah beliau ngerti dan menyuruh aku istirahat saja, tidak usah masuk kerja hari ini. So, istirahat sambil buat laporan perjalanan ini jadi pilihanku.

Buat teman-teman yang ingin aku kunjungi, aku tunggu undangan kalian ya.

Kali ini via Langit ya...

Backsound : Estranged by Guns N’ Roses (langsung ingat kamu) dan Lets Make Love nya Faith Hill (kalau ini kamu dengerin pasti langsung ingat aku) dari musicmacth jukebox di computer ku.

Hari ini berlalu tanpa kehadiranmu. Serasa ada yang hilang dalam diriku. Ya pastilah, paling tidak aku kehilangan teman buat ngobrol malam ini. Tapi bayang dan semangatmu terus ada dijiwa ini.Saat ini kurasa kau sudah berada dirumahmu, rumah orang tuamu tepatnya.

Kau memutuskan untuk berakhir pekan ke kampungmu, setelah dua bulan lebih tidak mengunjungi mereka. Dan sialnya sinyal Simpati buruk banget disana. Sehingga aku tidak bisa menghubungimu malam ini. Walau hanya sekedar untuk mendengar suaramu.

Dan yang bikin kesedihan ini begitu sempurna adalah cuaca yang hujan disini membuat sang bulan tidak menampakkan bundarannya dilangit. Malam saat aku keluar rumah ingin sms-an atau chatting bersamamu.

Seperti janji kita untuk selalu berkomunikasi dengan bulan bila alat komunikasi buatan manusia tidak bisa menyentuh tempat-tempat tertentu. Seperti hari ini, malam ini. Tapi kurasa langitpun bisa menyampaikan kata-kata jiwaku padamu. Kita sms-an dan chatting via langit ya…
Sesekali asyik juga berada dalam keadaan tak berteknologi.

Hari ini kulewati sambil terus memikirkanmu. Asyik banget bila saat melakukan setiap kegiatan kau juga mendampingiku. Dimulai dengan melakukan pencarian dan coba mulai memikirkan. Setelah beberapa hari aku sibuk bersolek (katamu dalam sehari warna template blog-ku bisa berganti dari coklat…putih…abu-abu dan kini kembali putih), kayaknya tiba saatnya aku untuk mulai berbenah diri.
Terimakasih buat nasehatnya selama ini.

Oiya, satu lagi. Besok pagi aku juga akan pergi kekampung, bukan kampungku tapi kampung temanku. Dan kau tau. Jangankan buruk, sinyal simpatipun tidak sampai kesana. Kampuuuuuung banget daerahnya.

Aku akan benah-benah (beres-beres) dulu sekarang. Supaya besok gak terburu-buru. Tahukan perempuan banyak banget yang harus dibawa. Tapi kali ini aku akan bawa sesimpel mungkin. Dan kukira stok baju yang sudah lama dimusiumkan harus dikeluarkan kembali.

Hey, aku pergi ke kampung di daerah pedalamana Aceh (syariat Islam kental disana). Tidak mungkin aku pakai celana jeans dan baju kaos seperti sekarang. Paling tidak sepasang baju abaya sudah cukup untuk kubawa dan akan kupakai pada acara puncak Maulid. Selain beberapa pasang underwear (ini yang penting, gak mungkin minjam kan?).
Sampai jumpa lagi di peradaban ya…

***
Sok tahu banget aku. Memangnya Tangse seberapa tak berteknologinya siy? (ini PR buat ku)

KHS beres. Tangse...I'm coming...

Aku celinggak-celingguk dari bangku belakang motor yang dibawa Fian (temen se-dinasku) saat mulai memasuki halaman depan kampus untuk melihat apakah temanku Mila udah nyampe. Soalnya aku sudah janji untuk jumpa dikampus pagi ini. Memang aku agak telat siy, soalnya tiba-tiba mantan bosku datang kekantor dan ingin membahas sedikit tentang kerjaan.
Nah, itu dia disana lagi cekakak-cekikik sama teman-teman sekelasnya di teras kantor Biro.
“Aku ke akademik dulu ya,” teriakku dari atas motor, sambil tanganku menunjuk kearah gedung akademik.
Kulihat dia menggangguk.Teriak-teriak kayak dihutan saja aku pikir. Ah biar saja, toh kampus lagi sepi, masih musim libur siy. Hanya ada beberapa orang yang ku lihat di pelataran parkir, yang agak ramai di gedung akademik. Pasti lagi ngurus KRS atau ngambil KHS pikirku.
Langsung ingat sama nilai MK Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan ku yang tidak ada nilai.Sial, padahal aku sudah ikut ujian, gara-gara lembar jawabannya sembunyi entah dimana terpaksa aku harus ikut ujian ulang. Dan itu yang menjadi tujuanku juga datang kesini, mau ujian ulang yang sudah tertunda 10 hari gara-gara aku tidak bisa ijin dari kantor. Kalo dibilang siap siy tidak juga. Tapi aku selalu punya jurus andalan kalo udah tidak bisa lagi menjawab soal-soal ujian, tau tidak apa jurus ku? “Mengarang indah,” hahaha.
Untungnya MK-ku banyak yang hafalan jadi tidak mesti pasti-pasti banget jawabnya kayak yang dibuku (hanya untuk case tertentu). Asal intinya udah kena, udah deh. “Langsung pulang niy?” tanyaku pada Fian sesampai didepan gedung akademik.
“Lama nggak? Memang kamu mau masuk kantor lagi nggak?”
“Masuk, tapi ntar jam 12an”
“Oke, aku balik kantor aja. Pulang sendiri kan?”
“Yup” jawab ku sambil tersenyum manis (hi…itu juga kata kamu loh)
Langsung aku berjalan menuju pintu masuk ruang akademik. Setelah pandangan menyapu seluruh ruangan, aku langsung tertuju pada sosok cewek hitam manis yang duduk di belakang meja administrasi. Langsung kedekati dia. Sambil senyum aku berjalan kearahnya dan dia pun membalas senyumku.
Asyik…cuaca cerah niy “Gimana kak Ita? Jadi ujian ulangnya?”
“Udah beres, nilainya tanya aja langsung sama Bang Wan” ucapnya. Kali ini suara mu terdengar begitu merdu banget ditelingaku. Alhamdulillah, gak jadi ujian ulang dunk. Belum lagi aku sampai kemeja Pak Wan, dari jauh dia sudah teriak-teriak yang sok akrab gitu.
“Hey. Sini kamu. Udah saya jumpai dosenmu dan beliau langsung memberikan nilai,” ujarnya semangat 45.Sambil tersenyum senang aku langsung menghampirinya. Walau kau berteriak-teriak dengan suara jelekmu, tapi kali ini terdengar begitu merdu bagiku.
“Nilainya apa pak?” Tanya ku tanpa basa-basi“A”Lagi dunk…lagi…coba ulang sekaliiiii lagi, merdu banget siy suaramu saat mengucap satu kata itu.
Makin lebar saja senyumkuMenurut Pak Wan, nilai ini diambil berdasarkan pertimbangan nilai-nilaiku yang lain. Aku memiliki 6 nilai A, 4 nilai B, 1 nilai C dan 1 nilai D (yang tak terlihat olehnya ).Tapi kini, nilai D itu terlihat jelas sekarang.
“Bagaimana dengan nilai yang D ini? Apa nggak mau di konfirmasi?” tanyamu agak terkejut dengan satu huruf yang tidak mathcing dengan teman-temannya nonggol di data computermu.“Gak bisa di hubungi pak,” jawabku sekenanya.
“Beliau ada kok diruang biro,” ujarmu seakan menyarankan aku untuk menjumpainya. Sebenarnya 10 hari yang lalu saat kau bilang nilaiku ada yang D, aku sudah ingin temui dosen MK yang bermasalah itu.
Paling tidak aku sudah pernah sekali menelpon ke Hp dan rumahnya. Tapi tidak berhasil kutemui. Dan bagiku sekali mencoba sudah cukup. Lagian meminta-minta nilai kayaknya, “bukan aku banget deh”. Walau teman-temanku banyak yang melakukannya.
Ah kuliah kalo lurus-lurus aja kurang asyik kali ya.Ini kuanggap warna-warni dalam perkuliahan.“Ya sudah pak, biar saja begitu”
“Ya sudah kalau begitu, langsung saya print ya”
tetterettetet…..Mesin print sedang menjalankan fungsinya. Terlihat kertas KHS ku meluncur keluar. Terlihat deretan huruf-huruf dan angka-angka pada lembaran itu.
Ah,lumayan…“Makasi pak”Aku langsung ngacir untuk menjumpai Mila
***
“Hai Num…gimana? Udah ujiannya?” tanya Mila sesampai aku di sebelahnya
Mila adalah sahabatku. Kami sudah saling kenal semenjak 5 tahun yang lalu. Saat itu kami bekerja ditempat yang sama. Dari situ kami mulai akrab. Mila sangat pengertian dan sabar, itu yang membuat aku sayang padanya. Dia pernah selama 1 bulan tinggal dirumahku saat tsunami melanda Aceh. Saat itu dia tidak memiliki tempat tinggal lagi di kota ini. Keluarga kakaknya (tempat tinggal dia yang dulu) meninggal semua. Terus dia tinggal bersama saudaranya yang jauh, karena tidak betah lalu aku memintanya untuk tinggal bersamaku. Setelah satu bulan ternyata saudaranya yang lain sudah kembali kesini, dan dia tinggal bersama mereka sampai sekarang.
“Batal ujiannya, niy aku udah dapat KHS”
“Berapa?”
“3,25” sambil memperlihatkan lembaran KHS kuMemang gak seberapa siy dibanding kamu yang 3,75, kamu kan rajin. Tapi bagiku ini berkah banget. Soalnya aku males banget masuk kuliah. Selain sudah capek kerja, kamu kan tau sendiri kalo aku ini “Sleeping Beauty”. Makanya nilaiku ada yang D, gara-garanya aku tidak mengikuti midtest (ketiduran euy).
“So gimana rencana kemaren? Jadi gak kita ke Tangse? ke tempat Azizahkan?”
Azizah adalah teman Mila yang tinggal satu kamar dengannya. dia juga tidak punya tempat tinggal di Banda Aceh, maka Mila mengajaknya untuk tinggal bersama dengannya. Saat ini Azizzah sedang pulang ke kampungnya di Tangse. Dan mengundang Mila untuk datang kesana dan boleh juga membawa kawan-kawan yang lain juga. maka aku terpilih sebagai orang yang diajak untuk kesana. Aku kenal Azizah cuma sepintas saja. Cuma sekedar tahu saja. Pernah beberapa kali Mila membawanya untuk silahturahmi kerumahku.
“Jadi dunk. Besok ya jam 8 pagi. Terus kita pulang hari minggu siang. Gimana?” kau menjelaskan jadwal keberangkatan.
“Oke” jawabku antusiasasyik liburan…jalan-jalan…
“Udah minta ijin belum?” tanya mu mengingatkan.
Duh…“Belum siy. Nanti rencananya aku bilang”“Aku mau pesan tiket niy. Jangan sampe gak jadi ya?” Ujarmu menekankan.
“Beres. Pasti dikasi kok”
Pe-de banget aku. Padahal untuk nginep dirumah teman, ijinnya sulit banget. Apalagi keluar kota gini.“Nanti malam aku telpon ya” ucapmu saat berpisah denganku. Karena aku harus kembali kekantor.
***
Sore ini hujan, aku sedang asyik dengan komputerku. Nulis, dikit-dikit. Ah iya lupa, aku harus bilang niy kalo besok mau ke Tangse, tidak jauh kok, cuma 3 jam perjalanan.
“Mak, besok Aloh (nama rumahku) ke Tangse ya?” tanyaku yang masih didepan computer hanya saja badanku menghadap kearah ibuku yang lagi asyik nonton sinetron.
“Tanya ayah saja sana, mamak gak tau. Memang ada apa?”
“Ada acara Maulid di kampung Mila”
“Kamu kalo acara Maulid disini gak pernah mau ikut. Sekarang pakai pergi jauh-jauh cuma mau hadiri itu”
“Lain kan. Niy dikampung. Suasananya beda” jawabku meyakinkan. Namun ya tetap saja aku harus bicara dengan ayah lagi.
Sehabis maghrib aku menunggu ayah keluar dari kamar. Nah itu ayah sudah keluar menuju ketempatku duduk sekarang, di ruang keluarga.
“Yah, besok aloh ke Tangse ya?”
“Buat apa? Tidak boleh. Lagian disana jalannya masih jelek,” jawab ayah tegas banget.
“Gak jelek ah. Udah bagus kok,” jawabku lebih tegas lagi. Biar meyakinkan, walau aku tidak tahu. Pergi saja belum pernah.
“Kamu ada-ada saja…bla…bla…tidak boleh” ulang ayah lagi.
“Perginya sama Mila kok”Ayah tiba-tiba tidak membantah. Dan itu sebagai jawaban kalo ayah mengizinkan. Ah manjur juga nama Mila, kayak mantra aja. Ayahku lalu megijinkan. Senang siy walau agak sebel juga. Masa lebih percaya sama Mila dibanding aku. Tapi aku tidak peduli yang penting bisa pergi.
Tangseeeee…I’m coming… Tunggu ceritaku sepulang dari Tangse ya…

Ikut TSR Ah...

Siang yang panas. Dan aku berinisiatif untuk tidak kembali ke kantor setelah tadi mampir sebentar ke kampus untuk mengurus masalah nilaiku yang tidak keluar, gara-garamya lembar jawaban ku hilang, dan membuat aku gak punya nilai untuk satu MK, sehingga aku tidak bisa menerima KHS. Padahal aku sudah mengikuti ujian untuk semester ini.
Kali ini aku melangkahkan kaki menuju warnet tempat biasa aku nongkrong berjam-jam, kadang hanya untuk chating dengan teman-temanku atau mencari bahan makalah untuk tugas kuliah. Saat aku membuka pintu warnet, udara dingin dari AC langsung menerpa wajah ku, adem banget. Baru tiga langkah aku masuk ke dalam, tiba-tiba aku dikejutkan dengan seorang ibu paruh baya yang sudah sangat ku kenal. Langsung senyum ku mengembang dan langsung mengambil tangannya dan meletakkan di keningku. “Apa kabar Bu?” Tanyaku sambil terus memandangi wajahnya. Kau masih seperti yang dulu pikir ku, hanya kerut ketuaan yang bertambah di wajah mu. Tapi binar itu tetap tampak di mata mu. Kau orang yang selama tiga tahun membimbing ku. Mana bisa aku lupa pada mu.
Beliau adalah guru ku di SMU. Beliau mengajar pelajaran Bahasa Inggris dan beliau juga Pembina PMR di sekolah. Guru yang sangat telaten dalam membimbing muridnya. Beliau bukan hanya guru tapi juga teman, sahabat, kakak, orang tua bagi ku dan ku rasa juga bagi murid-murid yang lain.
Setelah mengobrol beberapa saat, aku menanyakan apakah beliau masih mengurusi kegiatan PMI di kota ku. Karena telah lama aku tidak bergabung lagi disana semenjak aku sudah mulai bekerja. Dan dia menganjurkan kepada ku untuk kembali aktif sebagai TSR singkatan dari Tenaga Suka Rela. Yang mana sebelumnya aku terdaftar sebagai anggota KSR (Korp Suka Rela) sejak aku lulus dari SMU. Aku aktif sebagai anggota PMR di SMU juga sebagai salah satu anggota Paskibraka di sekolah. Namun aku lebih banyak melakukan kegiatan di PMR. Selain memang aku suka, juga karena beliau sebagai pembinanya. Aku dan anak-anak PMR lainnya merasa sangat diayomi oleh beliau.
PMR, KSR dan TSR adalah kelompok-kelompok kecil di PMI. Kalau PMR beranggotakan siswa SMP dan SMU, maka KSR beranggotakan mahasiswa atau ex siswa alias yang sudah tamat dari SMU. Sedang TSR beranggotakan KSR-KSR yang sudah bekerja atau tidak bisa secara aktif mengikuti kegiatan PMI. Mereka banyak hanya menjadi fasilitator dalam kegiatan-kegiatan PMI dan sebagai penyokong dana, soalnya mereka kebanyakan orang-orang sibuk dan sudah bekerja.
Saat menjadi anggota KSR aku dan teman-teman melatih adik-adik PMR dalam bidang kepalang-merahan. Dari mulai membalut luka, membuat tandu, memasang tenda. Yang paling digemari pelajaran tentang penangangan henti jantung, soalnya pertolongannya dengan memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut. Hehehe…dasar otak mesum. Di sana kita belajar tentang P3K. Mengenai apa yang dilakukan bila tiba-tiba kita bertemu dengan korban kecelakaan atau keracunan, tenggelam, digigit ular berbisa, tertembak, dan banyak lagi. Dimana pada saat itu kita gak mempunyai persiapan apa-apa. Mau membalut luka gak bawa kasa, mau menghentikan bisa ular gak punya torniket, mau menghentikan pendarahan gak punya alat, jadi ceritanya kita diajar untuk dapat menggunakan alat-alat alternatif di sekeliling kita bila kita berjumpa dengan kasus-kasus seperti yangku sebutkan diatas, kan ceritanya kejadian tak terduga. Namun harus seaman mungkin digunakan. Jadi alternatif ini tetap harus bisa menyelamatkan dan tidak menambah parah cedera si korban. Dan itu seru banget bagiku.
Ada beberapa perlombaan yang aku ikuti sewaktu aku masih anggota PMR. Sekolahku kerap mendapat juara dalam perlombaan antar sekolah maupun antar kabupaten/kota yang diadakan oleh PMI. Aku sering berada di kelompok P3K dan pasang tandu. Ada juga kelompok dapur umum, bongkar pasang tenda dan ada beberapa yang aku gak ingat. Semua diajarkan tapi nanti kita dibuat spesialisasi oleh Pembina PMR disekolah. Sewaktu di KSR aku juga ada ikut pelatihan Emergency dan survival. Tapi aku hanya ikut pada teori saja, soalnya sewaktu kegiatan dilakukan langsung ke alam terbuka di gunung atau jalanan, orang tua ku gak mengizinkan. Jadi pengetahuan ku hanya sebatas teori doang.
Itu seputar kegiatan ku di PMR dan KSR dan aku berniat untuk kembali aktif di PMI namun hanya sebagai TSR saja seperti yang dianjurkan oleh guru ku tadi soalnya aku juga sibuk dengan kerja dan kuliah. Duh…ingat guru ku tadi, aku jadi ingat kalo aku harus belajar niy, kan besok harus ikut ujian ulang. Gara-gara lembar jawaban ku sembunyi entah kemana terpaksa deh aku ikut ujian ulang lagi. Nasib… mana gak ada satu pun teman ku yang free yang bisa nganterin aku pulang sekarang, semua pada sibuk. Giliran gak diminta pada nawarin semua. Angkotlah yang jadi andalan kali niy. Itung-itung berbagi sama sopir angkot.